TESIS PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI INTERACTIVE E-LEARNING MENGGUNAKAN GAME DAN ANIMASI UNTUK PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH DASAR (SD)

(KODE : PASCSARJ-0114) : TESIS PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI INTERACTIVE E-LEARNING MENGGUNAKAN GAME DAN ANIMASI UNTUK PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH DASAR (SD) (PRODI : TEKNIK ELEKTRO)




BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi telah mempengaruhi berbagai bidang, salah satunya bidang pendidikan. Wujud nyata pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi di bidang pendidikan adalah penggunaan internet dan intranet melalui sistem e-learning. Sistem e-learning telah banyak diaplikasikan oleh masyarakat dunia, dan menjadi tren pendidikan berbasis teknologi komunikasi dan informasi. Indonesia melalui berbagai institusi pendidikan baik milik pemerintah maupun swasta juga telah mengadaptasi sistem e-learning untuk pembelajaran. Pemanfaatan sistem e-learning untuk pembelajaran telah memicu terjadinya transformasi dari pola pembelajaran konvensional ke pola pembelajaran digital.
Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional (Renstra Depdiknas) mencantumkan bahwa pendidikan harus selalu melakukan adaptasi dan penyesuaian dengan gerak perkembangan ilmu pengetahuan modern dan inovasi teknologi maju, sehingga tetap relevan dan kontekstual dengan perubahan zaman. Pendidikan bertugas untuk menyiapkan peserta didik agar dapat mencapai peradaban yang maju melalui perwujudan suasana belajar yang kondusif, aktivitas pembelajaran yang menarik dan mencerahkan, serta proses pendidikan yang kreatif. SD sebagai salah satu subsistem pendidikan nasional yang menjadi tumpuan pertama terwujudnya Wajib Belajar 9 tahun diharapkan dapat mengikuti perkembangan teknologi dalam upaya meningkatkan mutu dan layanan pendidikan, sehingga diperlukan peningkatan kualitas dan kuantitas sarana prasarana guna mendukung proses pembelajaran tersebut.
Perubahan paradigma pendidikan dari teacher-oriented menjadi student-oriented menuntut kemandirian siswa dalam proses pembelajaran. Kurangnya interaksi siswa dalam proses pembelajaran menjadi kendala utama yang menyebabkan siswa tidak memiliki peran, menjadi pasif dan bergantung pada apa yang diberikan oleh guru.
Interaktifitas, baik konvensional maupun digital, merupakan hal penting dalam kegiatan pembelajaran karena meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran dan membangun sikap kognitif siswa.
Pentingnya interaktifitas tidak terkecuali pada pembelajaran matematika. Pembelajaran matematika bersifat abstrak dan deduktif, sehingga membutuhkan media pembelajaran yang memudahkan siswa dalam memahami konsep matematika. Penggunaan media untuk pembelajaran matematika diharapkan membantu siswa untuk belajar secara mudah, interaktif, komunikatif, dan dapat menerapkan berbagai konsep-konsep matematika yang terasa rumit menjadi ilmu pengetahuan yang kontekstual dan menyenangkan untuk dipelajari serta diaplikasikan. Dengan mengajukan masalah kontekstual, siswa secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Mengingat peran matematika yang sangat fundamental, sangat penting untuk melakukan eksplorasi mengenai bagaimana meningkatkan kemampuan logika siswa.
Berdasar hal tersebut di atas, pada tesis ini akan dirancang dan diimplementasikan sistem interactive e-learning berbasis web menggunakan game animasi untuk pembelajaran matematika tingkat SD. Konsep perancangan sistem ini menitikberatkan pada bagaimana sistem dirancang untuk mendukung aspek pedagogik pembelajaran di ruang kelas dan memenuhi struktur pembelajaran matematika. Sistem interactive e-learning yang akan dirancang bersifat web-based dan merupakan jenis pembelajaran berbasis komputer yang memanfaatkan ICT sebagai curriculum tool. Sistem ini mengedepankan aspek interaktifitas untuk mendorong keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran sehingga mempercepat tercapainya nilai-nilai dalam proses pembelajaran. Interaksi pada sistem ini meliputi interaksi sosial dan interaksi kognitif. Sistem ini menggunakan animasi dan game untuk menciptakan suasana pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan.
Sebagai studi kasus tesis ini adalah pembelajaran materi bilangan untuk kelas 1 dan kelas 2 SD. Berdasar kurikulum yang berlaku saat ini, materi bilangan selalu terdapat pada tiap semester di setiap jenjang kelas SD. Pentingnya materi bilangan dikarenakan materi ini menjadi dasar penghubung siswa dengan dunia matematika, selain kenyataan bahwa kemampuan numeris dan komputasi akan sangat berguna pada kehidupan nyata.

1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan yang akan diuraikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Sistem interactive e-learning dapat menunjang aspek pedagogik pembelajaran berbasis komputer.
2. Merancang dan mengimplementasikan sistem interactive e-learning yang dapat meningkatkan keefektifan kegiatan belajar mengajar;
3. Optimalitas penggunaan animasi dan game untuk penyampaian materi bilangan.

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian dalam tesis ini adalah :
1. merancang sistem pembelajaran interactive e-learning untuk SD menggunakan game dan animasi, khususnya dalam penyampaian materi bilangan untuk kelas 1 dan kelas 2;
2. mengimplementasikan dan menguji sistem berdasar hasil rancangan yang dibuat.
Manfaat dari penelitian ini adalah menyediakan sarana pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi untuk pembelajaran matematika tingkat SD yang memenuhi kriteria berikut.
1. Memenuhi aspek pedagogik pembelajaran.
2. Memudahkan guru dalam pengelolaan kelas.
3. Menjadikan pembelajaran matematika mudah dan menyenangkan.
4. Mengefektifkan waktu pembelajaran.

1.4 Batasan Masalah
Batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Sistem yang akan dikembangkan merupakan sistem berbasis web menggunakan model portal pembelajaran.
2. Sebagai prototipe, digunakan teknik jaringan client server dengan ruang lingkup jangkauannya lokal (intranet).
3. Materi yang akan mengisi sistem pembelajaran mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk bidang studi matematika tingkat siswa SD sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia (Permendiknas RI) No. 22-23 Tahun 2006 sedangkan materi yang menjadi studi kasus penelitian ini adalah materi bilangan untuk kelas 1 dan kelas 2.

1.5 Metodologi Penelitian
Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap sebagai berikut:
1. Pendefinisian masalah yang akan dikaji dan dilanjutkan dengan studi literatur melalui kajian pustaka mengenai konsep interactive e-learning dan aspek pedagogik pembelajaran berbasis komputer.
2. Perancangan sistem untuk membangun aplikasi interactive e-learning menggunakan game dan animasi.
3. Implementasi dan pengujian sistem berdasar rancangan yang telah dibuat.

1.6 Sistematika Penulisan
Tesis ini terdiri dari enam bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut.
BAB I. PENDAHULUAN, berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan tesis, batasan masalah, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II. TINJAUAN INTERACTIVE E-LEARNING, berisi dasar-dasar teori dan tinjauan interactive e-learning yang melandasi pemikiran dalam melakukan analisis, perancangan, implementasi dan pengujian.
BAB III. ASPEK PEDAGOGIK PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPUTER, berisi tinjauan pedagogik yang melandasi pemikiran dalam melakukan analisis, perancangan, implementasi dan pengujian.
BAB IV. ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM, berisi penjelasan analisisis perancangan sistem meliputi perancangan software dan hardware.
BAB V. IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN SISTEM, berisi pokok-pokok penting dalam mengimplementasikan perancangan prototipe dan pengujian sistem sesuai rancangan yang telah dijelaskan di bab IV.
BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN, berisi kesimpulan yang diperoleh, saran untuk pengembangan lebih lanjut, dan beberapa kendala yang dihadapi selama melakukan kajian.
READ MORE - TESIS PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI INTERACTIVE E-LEARNING MENGGUNAKAN GAME DAN ANIMASI UNTUK PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH DASAR (SD)

TESIS PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI INTERACTIVE E-LEARNING MENGGUNAKAN ANIMASI DAN GAME MATA PELAJARAN IPA

(KODE : PASCSARJ-0113) : TESIS PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI INTERACTIVE E-LEARNING MENGGUNAKAN ANIMASI DAN GAME MATA PELAJARAN IPA (PRODI : TEKNIK ELEKTRO)




BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Ilmu Pengetahuan Alam berhubungan dengan cara mencari tahu alam secara sistematis sehingga bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah.
Penggunaan media merupakan suatu keharusan agar siswa menemukan dengan pengalamannya sendiri, bukan hafalan, teori, atau kaidah dan rumus-rumus. Media akan membantu siswa untuk memvisualkan hal-hal abstrak, merangsang kreatifitas, menemukan pengetahuan, dan memahami konsep. Agar dapat berfungsi meningkatkan mutu proses dan hasil belajar, media harus disiapkan dan dirancang dengan cermat oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajarannya.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi dapat menjadi katalis atas perubahan paradigma dan isi pedagogis. Teknologi informasi dan komunikasi yang lebih difokuskan pada teknologi komputer dan internet dapat memberikan cara baru dalam mengajar dan belajar. Pada prinsipnya mendukung teori belajar dan mengubah pedagogis yang berpusat pada guru.
Belajar dengan teknologi berarti belajar yang dipusatkan bagaimana teknologi memberikan makna pada pembelajaran suatu kurikulum yang sudah ditentukan. Belajar melalui komputer dan internet pada dasarnya memadukan proses belajar dengan bentuk teknologi yang digunakannya. Dalam hal ini melibatkan pemberdayaan kurikulum dengan aktivitas-aktivitas yang terkait dan mendukung kurikulum tersebut.
Salah satu bentuk penerapan teknologi dalam proses pembelajaran adalah sistem e-learning. E-learning adalah penyampaian mated pelajaran melalui media elektronik yang meliputi internet, intranet, extranet, satelit, pita rekaman audio/video, TV interaktif dan CD-ROM. Dalam e-learning, siswa merupakan subyek dan pusat proses pembelajaran, sehingga siswa harus mengeluarkan banyak energi sendiri untuk memahami pelajaran. Agar siswa tidak mudah bosan belajar sendiri, maka materi dalam e-learning harus dirancang sedemikian mpa sehingga mudah dipahami dan menyenangkan bagi siswa.
Peserta didik yang berada pada sekolah dasar kelas satu, dua, dan tiga berada pada rentangan usia dini. Pada usia tersebut selumh aspek perkembangan kecerdasan seperti IQ, EQ, dan SQ tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya tingkat perkembangan masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) serta mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih bergantung kepada obyek-obyek konkrit dan pengalaman yang dialami secara langsung. Proses seperti itu dapat diperoleh siswa melalui sebuah permainan dan juga gambar-gambar animasi, melalui permainan siswa memperoleh lebih banyak keterampilan dan pengalaman secara langsung. Namun begitu permainan yang diberikan pada siswa juga harus disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku saat ini.
Berdasarkan kondisi pembelajaran IPA di SD, SLTP dan SMU, nampaknya persoalan tersebut memerlukan suatu alternatif pemecahan yang sangat mendesak untuk menjembatani persoalan-persoalan seputar proses pembelajaran IPA. Artinya diperlukan upaya-upaya yang terprogram untuk mengubah dan memperbaiki pola pembelajaran yang selama ini dikembangkan dan dilaksanakan oleh guru. Untuk itu perancangan dan implementasi interaktif e-learning menggunakan game dan animasi pada materi benda dan energi kelas 1, 2 dan 3 tingkat Sekolah Dasar ini diharapkan dapat menjadi model pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan mutu pendidikan IPA di Indonesia.

1.2 Perumusan Masalah
Permasalahan yang dihadapi dalam pembuatan rancangan ini adalah :
- menentukan game yang dapat membantu menarik minat siswa dalam belajar IPA,
- menyesuaikan penggunaan game dan animasi dengan aspek pedagogik dan psikologis anak.

1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian interactive e-learning dengan game dan animasi ini adalah:
- merancang sistem pembelajaran interactive e-learning untuk SD dengan game dan animasi, khususnya pembelajaran mengenai benda dan juga energi,
- mengimplementasikan sistem pembelajaran interactive e-learning untuk SD dengan game dan animasi, khususnya pembelajaran mengenai benda dan energi berdasar rancangan yang dibuat.

1.4 Batasan Masalah
Penelitian tesis ini dibatasi pada perancangan dan implementasi sistem interactive e-learning menggunakan game dan animasi dengan studi kasus mated benda dan energi kelas 1, 2 dan 3 SD yang disesuaikan dengan SKKD matapelajaran IPA.

1.5 Metodologi Penelitian
Agar penelitian ini terarah, maka langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
- studi literatur mengenai sistem pembelajaran interactive e-learning dan konsep game,
- pengkajian terhadap interactive e-learning, game dan pembelajaran, aspek psikologis dan pedagogik anak, serta pembelajaran benda dan energi,
- analisis kebutuhan sistem interactive e-learning,
- perancangan sistem pembelajaran interactive e-learning serta perancangan game dan animasi benda dan energi,
- implementasi dari rancangan sistem,
- pengujian sistem secara fungsionalitas.

1.6 Sistematika Penulisan
BAB I. PENDAHULUAN, memuat tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, batasan masalah, metodologi penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA, berisi pembahasan mengenai konsep e-learning, interaktifitas, game dan pembelajaran, dan tinjauan pedagogi sistem.
BAB III. ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM, berisi pembahasan aspek-aspek yang dipertimbangkan dalam menrancangan game benda dan energi, baik dari sisi pengguna maupun dari sisi teknologi pendukung.
BAB IV. IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN, berisi uraian tentang pembuatan prototipe sistem interactive e-learning dengan game dan animasi.
BAB VI. PENUTUP berisi kesimpulan dan saran yang diperoleh dari hasil tahapan yang telah dilakukan selama penelitian.
READ MORE - TESIS PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI INTERACTIVE E-LEARNING MENGGUNAKAN ANIMASI DAN GAME MATA PELAJARAN IPA

TESIS DESAIN DAN IMPLEMENTASI INTERACTIVE E-LEARNING MENGGUNAKAN GAME DAN ANIMASI DENGAN PENDEKATAN CTL

(KODE : PASCSARJ-0112) : TESIS DESAIN DAN IMPLEMENTASI INTERACTIVE E-LEARNING MENGGUNAKAN GAME DAN ANIMASI DENGAN PENDEKATAN CTL (PRODI : TEKNIK ELEKTRO)




BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi telah mempengaruhi berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Bahkan di dalam renstra Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2005-2009 pemerintah telah mengagendakan tentang pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi dalam pembelajaran di tingkat Pendidikan Dasar, diantaranya adalah merancang dan membuat aplikasi pembelajaran berbasis portal, web, multimedia interaktif, yang terdiri atas aplikasi tutorial dan learning tool. Contoh pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi di bidang pendidikan adalah penggunaan internet dan intranet melalui e-learning. E-learning dapat dimanfaatkan untuk mengubah pola pembelajaran konvensional ke pola pembelajaran digital dan membantu proses belajar-mengajar menjadi lebih interaktif dan menyenangkan. Aspek interaktif dalam pembelajaran penting untuk diterapkan dalam rangka mengasah kreatifitas dan kemandirian siswa.
Salah satu ilmu pengetahuan yang menjadi dasar berkembangnya teknologi modern adalah Matematika. Selain itu Matematika juga memiliki peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia termasuk perkembangan di bidang teknologi informasi dan komunikasi dengan menerapkan teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit.
Untuk menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini. Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif akan terus dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Setelah anak masuk SD, pengajaran matematika jadi lebih sulit. Sebab semakin tinggi kelas anak, pelajaran matematikannya akan semakin sukar. Apalagi ketika anak menginjak kelas 3 dan di sinilah anak mulai tidak menyukai matematika.
Pelajaran matematika penuh dengan angka serta rumit dan hal ini pulalah yang membuat anak tidak menyukai matematika. Agar dapat memahami mated, anak harus belajar menyukai dan konsentrasi penuh pada pelajaran itu. Jika tidak dapat, anak akan cepat merasa bosan, lama-lama menjadi malas, bahkan takut. Selain masalah kerumitan mated, cara penyajian atau pola pembelajaran kurang kreatif serta masalah diskalkulia (kesulitan belajar menghitung) merupakan faktor lain yang membuat anak tidak menyukai matematika.
Mengingat usia anak yang masih kecil, pengajaran matematika harus dilakukan semenarik dan sekreatif mungkin. Karena rentang konsentrasi anak tidak panjang, maka mereka perlu diberi penyajian yang variatif dan interaktif. Misalnya cara penyajian tidak hanya selalu berbentuk angka-angka, tapi selingi dengan cerita, teka-teki, alat peraga, pengenalan mated dengan ilustrasi, animasi, game dan Iain-lain.
Cara mengajar yang interaktif perlu digalakkan dan diterapkan dalam proses pendidikan saat ini. Proses pengajaran yang berjalan secara interaktif mengedepankan komunikasi dua arah diantara guru dan siswa serta dapat meminimalkan rasa bosan siswa dalam belajar. Penggunaan berbagai jenis teknologi, bahan multimedia dan internet diharapkan dapat membantu merealisasikan pendekatan ini.
Di dalam Tesis ini membahas desain dan implementasi interactive e-learning bidang studi matematika untuk tingkat Sekolah Dasar kelas 3 dengan menerapkan teknologi game dan animasi melalui pendekatan CTL. Dengan ini diharapkan kegiatan pembelajaran matematika menjadi lebih interaktif dan menyenangkan karena dalam aplikasi ini guru tidak lagi menjadi sumber utama informasi dan sumber utama segala jawaban, melainkan guru merupakan fasilitator pembelajaran, pelatih, kolaborator, navigator pengetahuan dan mitra belajar.

1.2 Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini akan diuraikan masalah sebagai berikut:
1. cara memanfaatkan interaktif e-learning sebagai salah satu media penunjang pelaksanan pembelajaran berbasis ICT di sekolah, sehingga pembelajaran menjadi lebih menyenangkan.
2. hal-hal yang dapat dipertimbangkan dalam merancang sebuah interaktif e-learning dan game,
3. cara merancang dan mengimplementasikan sebuah interaktif e-learning dan game dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan CTL, sehingga siswa dapat memahami konsep mated pelajaran matematika dengan mudah.

1.3 Tujuan
Tujuan penyusunan tesis ini adalah sebagai berikut:
1. merancang dan mengimplementasikan aplikasi interactive e-learning bidang matematika untuk tingkat Sekolah Dasar kelas 3 dengan teknologi jaringan berbasis Local Area Network (LAN), sebagai salah satu media penunjang pelaksanan pembelajaran berbasis ICT di sekolah,
2. mengintegrasikan penyampaian materi pelajaran dengan animasi dan game melalui pendekatan CTL, agar pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan mudah difahami,
3. menciptakan komunitas pendidikan melalui forum diskusi yang diharapkan akan bermanfaat untuk pertukaran informasi terkait pendidikan.

1.4 Batasan Masalah
Tesis ini dibatasi pada desain sistem dan pembuatan interactive e-learning berbasis web serta animasi dan game melalui pendekatan CTL. Adapun mata pelajaran yang akan diterapkan sebagai contoh kasus dalam tesis ini adalah matematika untuk siswa kelas 3 SD, dimana Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasarnya mengacu pada Standar Isi yang terdapat dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 22 Tahun 2006.

1.5 Metoda Penelitian
Metoda penelitian yang digunakan adalah :
1. mendefmisikan permasalahan,
2. studi literatur mengenai hal-hal yang berhubungan dengan tema meliputi konsep e-learning, game, game edukasi, kurikulum, CTL dan Iain-lain,
3. mengkaji sistem pendukung,
4. desain sistem yang digunakan untuk membangun interactive e-learning dengan menerapkan animasi dan game,
5. implementasi sesuai dengan rancangan yang telah dibuat,
6. pengujian.

1.6 Sistematika Penulisan
Tesis ini terdiri dari 5 bagian dengan sistematika sebagai berikut.
BAB I. PENDAHULUAN, menjelaskan tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan, batasan masalah, metodelogi penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA, berisi tentang konsep teknologi dan konsep pedagogik yang sesuai sebagai pendukung dalam penyusunan tesis ini.
BAB III. ANALISIS DAN DESAIN SISTEM, menjelaskan tentang analisis pemecahan masalah dan desain sistem.
BAB IV. IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN SISTEM, berisi tentang hal-hal penting dalam implementasi dan pengujian sistem sesuai dengan desain yang telah dijelaskan di bab III.
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN, menjelaskan tentang kesimpulan yang didapat serta saran untuk pengembangan lebih lanjut. Selain itu di bab ini juga dibahas sekilas mengenai kesulitan-kesulitan yang dihadapai ketika melakukan pengkajian.
READ MORE - TESIS DESAIN DAN IMPLEMENTASI INTERACTIVE E-LEARNING MENGGUNAKAN GAME DAN ANIMASI DENGAN PENDEKATAN CTL

TESIS PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS EKSPOSISI SISWA KELAS V MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TERPADU MEMBACA DAN MENULIS

(KODE : PASCSARJ-0111) : TESIS PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS EKSPOSISI SISWA KELAS V MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TERPADU MEMBACA DAN MENULIS (PRODI : PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA)




BAB I
PEDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian
Menulis pada dasarnya merupakan suatu keterampilan berbahasa yang berupa kegiatan produktif dan ekspresif yang membutuhkan kesabaran, keuletan, dan kejelian tersendiri. Dalam kegiatan menulis ini seorang penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosakata. Keterampilan menulis digunakan untuk mencatat, merekam, meyakinkan, melaporkan, menginformasikan, dan mempengaruhi pembaca. Maksud dan tujuan seperti itu hanya dapat dicapai dengan baik oleh para pembelajar yang dapat menyusun dan merangkai jalan pikiran dan mengemukakannya secara tertulis dengan jelas, lancar, dan komunikatif.
Untuk itu kurikulum ideal negeri ini telah menetapkan pembelajaran menulis sebagai salah satu komponen penting untuk diberikan kepada warganya sebagai muatan penting pendidikan sekolah dasar yang kita kenal dengan istilah "calistung". Materi pembelajaran menulis diberikan sejak dini dengan tujuan agar sekolah mampu memberikan bekal yang cukup untuk kemajuan siswanya dimasa yang akan datang. Berbagai metode pembelajaran sengaja diciptakan untuk mendukung keberhasilan pembelajar dalam keterampilan menulis ini.
Namun dalam aktualnya kurikulum ideal tersebut tidak berjalan dengan baik sesuai dengan yang diidealkan. Kegagalan aktualisasi kurikulum ideal dalam pembelajaran keterampilan menulis ini disebabkan banyak faktor. Salah satu faktor yang mempengaruhi kegagalan ini adalah miskinnya pengalaman dan pengetahuan guru terhadap berbagai pendekatan ataupun metode pembelajaran menulis. Pemerintah, dalam hal ini departemen pendidikan nasional belum mampu memfasilitasi seluruh para pengajar khususnya guru bahasa untuk mendapatkan akses pelatihan-pelatihan ataupun loka karya yang mampu memberikan sumbangan pengetahuan yang cukup, terutama dalam hal pembelajaran menulis.
Beberapa sumber informasi menyimpulkan bahwa keterampilan menulis siswa masih redah dibandingkan dengan keterampilan bahasa lainnya. Alwasilah (1993) memperkuat pernyataan di atas dengan mengatakan bahwa bahasa Indonesia di sekolah-sekolah lebih mengajarkan keterampilan menyimak, membaca, dan berbicara.
Diantara hambatan yang menjadikan rendahnya keterampilan siswa menulis di sekolah dasar adalah menulis eksposisi. Kegiatan menulis eksposisi menjadi suatu kegiatan pembelajaran yang sulit karena belum tersedianya bahan ajar tentang keterampilan menulis siap pakai yang dapat memenuhi kebutuhan pembelajaran serta minimnya pelatihan menulis eksposisi bagi siswa. Padahal kegiatan menulis ini merupakan suatu wadah yang bisa dijadikan siswa sebagai sarana pencurahan gagasan. Tarigan (1995:22) berpendapat bahwa keterampilan menulis dapat dikuasai dan diperoleh dengan jalan praktek dan latihan yang tersistematis.
Hambatan lainnya adalah kurangnya keterampilan guru dalam menggunakan berbagai model pembelajaran. Akibatnya proses pembelajaran yang dilaksanakan bersifat monoton karena hanya bertumpu pada model pembelajaran yang itu-itu saja dan keterlibatan siswa dalam prosesnya sangat minim. Prinsip pembelajaran yang disarankan oleh Kurikulum KTSP yang terkenal dengan akronim PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan) belum bisa dilaksanakan secara maksimal oleh guru dalam aktifitas pembelajar sehari-hari.
Atas dasar realita yang terjadi di atas perlu kiranya ditanggapi dan diperhatikan, yaitu dengan mencari dan menemukan solusi yang tepat sehingga mal praktek pendidikan bisa dihindari. Kita harus memperhatikan visi misi masa depan pendidikan yang lebih menitikberatkan pada penggalian potensi siswa. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Sanusi (1991), yaitu bahwa fungsi utama pendidikan akan bergeser dari memberi tahu, mengajar, membina, mengembangkan apa-apa dari orang lain kepada membelajarkan orang lain mendorong orang lain aktif sendiri. Titik berat bergeser dari memberdayakan orang lain ke memberdayakan semua potensi diri.
Guru merupakan aktor utama yang menjadi kunci keberhasilan pembelajaran di lapangan. Kamampuan guru untuk merencanakan dan memilih pendekatan dan model pembelajaran keterampilan menulis yang sesuai dengan teks dan konteks siswa menjadi sebuah keharusan.
Model pembelajaran kooperatif adalah salah satu model pembelajaran yang dianggap mampu untuk meningkatkan kreatifitas pembelajaran siswa. Falsafah yang mendasari model pembelajaran kooperatif atau gotong royong ini adalah pendidikan adalah falsafah homo homini socius yang menekankan bahwa manusia adalah mahluk sosial. Kerjasama merupakan kebutuhan yang sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup. Tanpa kerjasama, tidak akan ada individu, keluarga, organisasi.
Setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Salah satu alasan terpenting mengapa pembelajaran kooperatif dikembangkan adalah karena para pendidik dan ilmuwan sosial telah lama mengetahui tentang pengaruh persaingan di kelas yang dapat merusak suasana kelas. Hal ini bukan berarti pesaingan di kelas salah, jika diatur dengan baik, persaingan di dalam kelas yang sesuai dapat menjadi sarana yang efektif dan tidak tidak berbahaya untuk memotivasi orang melakukan yang terbaik.
Salah satu model pembelajaran kooperatif ini adalah model pembelajaran Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis. Model pembelajaran ini merupakan program komprehensif untuk mengajarkan membaca dan menulis pada sekolah dasar pada tingkat yang lebih tinggi dan juga pada sekolah menengah (Madden, Salvin, dan Steven, 1986). Para siswa belajar dalam kelompoknya untuk menguasai gagasan utama dan kemampuan komprenhensif lainnya. Selama periode seni berbahasa ini siswa terlibat dalam pelatihan penulisan, saling merevisi dan menyunting karya yang satu dengan yang lainnya, dan mempersiapkan hasil kerja kelompok.
Berdasarkan paparan di atas, maka penulis merasa sangat perlu untuk menuangkan gagasan dan pemikiran tentang peningkatan menulis secara spesifik dengan menggunakan model Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis ini dalam sebuah penelitian. Peneliti melakukan ini dalam usaha untuk mengetahui keberhasilan atau pun kendala yang diperoleh bila model ini diterapkan dalam pembelajaran menulis, yang secara khusus pada pembelajaran menulis eksposisi. Oleh karena itu peneliti mencoba untuk merumuskan sebuah judul penelitian, yaitu "Peningkatan Kemampuan Menulis Eksposisi Siswa Kelas V Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis. Penelitian ini dilakukan di SD X Kota Y dengan menggunakan metode penelitian eksperimen.

1.2 Batasan dan Rumusan Masalah
1.2.1 Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan pengamatan terhadap model pembelajaran untuk pembelajaran menulis eksposisi dalam bahasa Indonesia, penulis membatasi masalah dalam penelitian ini pada model Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis.
1.2.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah dalam penelitian ini, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1) Bagaimanakah proses perencanaan dan pembelajaran model Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis dalam mengingkatkan kemampuan menulis eksposisi berita dan eksposisi ilustrasi siswa kelas V SD X Kota Y?
2) Bagaimanakah tanggapan siswa terhadap model pembelajaran Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis?
3) Seberapa besar pengaruh model pembelajaran Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis dalam meningkatkan kemampuan menulis eksposisi berita siswa kelas V SD X Kota Y?
4) Seberapa besar pengaruh model pembelajaran Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis dalam meningkatkan kemampuan menulis eksposisi ilustrasi siswa kelas V SD X Kota Y?

1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang diteliti, penelitian ini secara rinci mempunyai tujuan:
1) untuk mengetahui proses perencanaan dan pembelajaran model Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis dalam mengingkatkan kemampuan menulis eksposisi berita dan eksposisi ilustrasi siswa kelas V SD X Kota Y.
2) untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap model pembelajaran Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis.
3) untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis dalam meningkatkan kemampuan menulis eksposisi berita siswa kelas V SD X Kota Y.
4) untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis dalam meningkatkan kemampuan menulis eksposisi ilustrasi siswa kelas V SD X Kota Y.

1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi positif bagi dunia pendidikan umumnya dan khususnya bermanfaat bagi siswa, guru, dan praktisi pendidikan terutama guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Manfaat penelitian ini dibagi dalam dua kategori, yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis.
1.4.1 Manfaat Teoretis
Penelitian menganai pembelajaran menulis eksposisi melalui pendekatan model Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis diharapkan dapat bermanfaat untuk menemukan pendekatan yang cocok dalam pembelajaran menulis eksposisi untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa kelas V Sekolah Dasar.
1.4.2 Manfaat Praktis
- memperbaiki persepsi siswa terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia khususnya menulis.
- memanfaatkan hasil penelitian mengenai pembelajaran menulis eksposisi melalui pendekatan model Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar.
- meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Indonesia khususnya kemampuan menulis eksposisi di SD X Kota Y.

1.5 Anggapan Dasar dan Hipotesis
1.5.1 Anggapan Dasar
Penelitian ini dilandasi oleh sejumlah anggapan dasar berikut ini:
a) Model Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis adalah model yang relevan untuk pembelajaran menulis eksposisi berita dan eksposisi ilustrasi siswa kelas V Sekolah Dasar.
b) Kemampuan menulis eksposisi berita dan eksposisi ilustrasi siswa dapat ditingkatkan apa bila guru menggunakan model pembelajaran yang tepat.
1.5.2 Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah dalam penelitian ini, selanjutnya dirumuskan hipotesis agar penelitian ini lebih terarah. Hipotesis tersebut sebagai berikut: Pembelajaran menulis eksposisi berita dan eksposisi ilustrasi melalui pendekatan model Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis berpengaruh terhadap meningkatkan kemampuan menulis siswa kelas V Sekolah Dasar.

1.6 Definisi Operasional
Definisi operasional ini dimaksudkan utuk menjelaskan pokok-pokok penting yang merupakan kata kunci dalam penelitian ini. Yang dijadikan model dalam penelitian ini adalah model Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis.
1. Model Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis, memiliki tahapan pembelajaran, yaitu dimulai dengan proses awal membaca teks kemudian tahap akhir proses menulis dengan tahapan sebagai berikut:
a. guru membentuk kelompok beranggotakan empat orang siswa yang secara heterogen;
b. guru memberikan teks sesuai dengan bahan pembelajaran;
c. murid saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberikan tanggapan terhadap teks yang ditulis pada lembar jawaban;
d. murid membacakan hasil kerja kelompok;
e. guru membuat kesimpulan bersama murid;
f. guru membacakan kesimpulan.
Model pembelajaran merupakan suatu perencanaan pembelajaran yang digunakan dalam menentukan maksud dan tujua setiap pokok bahasan, menganalisis karakteristik warga belajar, menyusun instruksional khusus, memilih isi pembelajaran, melakukan pra tes, melaksanakan kegiatan belajar mengajar, mengadakan dukungan pelayanan, melaksanakan evaluasi, dan membuat revisi belajar mengajar.
2. Menulis Eksposisi
Eksposisi berasal dari kata Latin yang berarti memberitahukan, memaparkan, menguraikan. Ini berarti bahwa tujuan utama wacana eksposisi itu adalah untuk memberitahukan, memaparkan, menguraikan atau menerangkan sesuatu kepada audien tertentu. Di dalam eksposisi, bahan yang akan dikomunikasikan adalah semata-mata informasi. Informasi ini mungkin berupa data faktual; misalnya tentang kejadian sejarah, tentang bagaimana sesuatu bekerja; tentang bagaimana suatu operasi atau proses suatu pekerjaan dilaksanakan.
Jadi pada dasarnya, eksposisi adalah tulisan yang berusaha untuk menjelaskan suatu prosedur atau proses, memberikan definisi, menerangkan, menjelaskan, menafsirkan gagasan, menerangkan bagan atau tabel, mengulas sesuatu. Eksposisi juga merupakan karangan yang menyajikan sejumlah pengetahuan atau informasi. Tujuannya, pembaca mendapat pengetahuan atau informasi yang sejelas-jelasnya.
Dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan pada eksposisi berita dan eksposisi ilustrasi. Eksposisi berita adalah tulisan yang berisi pemberitaan mengenai suatu kejadian. Jenis eksposisi ini banyak ditemukan pada surat kabar. Dan eksposisi ilustrasi adalah tulisan yang pengembangannya menggunakan gambaran sederhana atau bentuk konkret dari suatu ide. Mengilustrasikan sesuatu dengan sesuatu yang lain yang memiliki kesamaan atau kemiripan sifat. Biasanya menggunakan frase penghubung "seperti ilustrasi berikut ini, dapat diilustrasikan seperti, seperti, bagaikan."
READ MORE - TESIS PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS EKSPOSISI SISWA KELAS V MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TERPADU MEMBACA DAN MENULIS

TESIS ANALISA SISTEM PENILAIAN KINERJA DI PT. EPSON INDONESIA

(KODE : PASCSARJ-0110) : TESIS ANALISA SISTEM PENILAIAN KINERJA DI PT EPSON INDONESIA (PRODI : PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA)




BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Era perekonomian terbuka sudah dimulai semenjak terjadinya globalisasi di berbagai belahan dunia, saat itulah lambat laun persaingan usaha dan bisnis semakin ketat bersaing, berbagai strategi dilakukan oleh perusahaan untuk memenangkan kompetisi di dunia usaha, antara lain adalah strategi di bidang sumber daya manusia. Sebagaimana manusia penting dalam kehidupan di dunia, manusia juga merupakan esensi terpenting dalam organisasi atau perusahaan. Keberhasilan suatu organisasi mencapai tujuannya tergantung pada perilaku anggota-anggotanya dalam melakukan sinergi berbagai asset organisasi seperti asset financial, teknologi, informasi, dan ilmu pengetahuan. Faktor penentu kemajuan perusahaan adalah kualitas dari sumber daya manusianya yang dapat membuahkan pemikiran strategi yang efektif dan efisien dalam mengoperasikan setiap unit kerja, dan mampu memberikan perbaikan dan peningkatan pada perusahaan maupun pada tenaga kerja itu sendiri.
Pengelolaan sumber daya manusia sebagai salah satu modal untuk bersaing di dunia bisnis dilakukan baik oleh perusahaan besar dan perusahaan kecil, bukan hanya perusahaan lokal tetapi juga perusahaan asing. Hal ini dilakukan karena banyaknya tenaga kerja di Indonesia dengan beragam pendidikan dan ketrampilan yang diserap oleh perusahaan-perusahaan ini sehingga tenaga-tenaga kerja ini harus diberi pengarahan akan visi utama dari perusahaan sehingga tercipta sinergi perusahaan yang baik.
Keragaman karakteristik tenaga kerja dan banyaknya lini kerja di perusahaan membuat pekerjan untuk mengelola, mengorganisasi, dan memimpin tenaga kerja bukanlah pekerjaan yang mudah, oleh sebab itu diperlukan system dan divisi tersendiri dalam perusahaan sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai sesuai dengan visi dan misi yang telah ditentukan. Selain karena keragaman dari tenaga kerja itu sendiri, berlimpahnya tenaga kerja yang tidak diimbangi dengan terbukanya lapangan pekerjaan yang membuat jumlah penganggur semakin banyak dan membuat kecenderungan lain yang terjadi saat ini dalam pengelolaan karyawan yaitu dengan adanya sistem kontrak karyawan baru yang dapat meminimalkan biaya perusahaan tetapi diharapkan dapat memaksimalkan kinerja perusahaan.
Pengelolaan sumber daya manusia tidak hanya terpaku pada pengarahan cara kerja saja, tetapi mereka juga harus diberikan motivasi, kompensasi, dan penghargaan untuk hasil jerih payah kerja mereka sehingga mereka tahu bahwa mereka merupakan bagian dari kemajuan perusahaan. Untuk itu diperlukan penilaian kinerja yang baik oleh perusahaan sehingga terbuka jalan antara manajemen atas dengan para pekerja di lini bawah. Penilaian kinerja ini juga digunakan untuk mengetahui apakah para pekerja ini berada jalur yang benar sesuai dengan deskripsi jabatan (job description) mereka, ataukah pekerja ini kehilangan fokus pekerjaan sehingga bisa menjadi penghambat dalam pertumbuhan perusahaan. Selain itu, penilaian kinerja juga diperlukan untuk mengetahui apakah perusahaan sudah pantas dalam menilai hasil kerja mereka dan apakah perusahaan tersebut sudah layak memberikan penghargaan kepada mereka atau pekerja malah merasa sebaliknya, perusahaan belum cukup untuk menghargai hasil kerja mereka.
Secara teoritis, deskripsi jabatan dan spesifikasi jabatan adalah produk dari aktivitas analisis jabatan. Tentang deskripsi jabatan dan spesifikasi jabatan, Werther, Jr. dan Davis (1996:131) menyatakan bahwa keduanya sangat erat hubungannya dan yang membedakan hanya perspektifnya, dengan pendapat sebagai berikut :
"The difference between a job description and a job specification is a matter of perspective. Since a job descriptions and job specifications both focus on the job, they are often combined into one document, commonly call a job description. Job specifications may include specific tools, actions, experience, education, and training requirements that help clarify individual requirements for successful job performance."
Menurut pendapat keduanya, deskripsi jabatan yang merupakan produk dari analisis jabatan mencakup dua jenis aplikasi, pertama adalah sebagai sasaran-sasaran dari prestasi kerja pegawai dan kedua, adalah sebagai standar kinerja untuk pengukuran hasil akhir kinerja. Lengkapnya pendapat Werther, Jr. dan Davis (1996:133) adalah sebagai berikut
"Job Analysis has a third application: job performance standards. These standards serve two functions. First, they become targets for employee efforts. Without standards, employee performance may suffer. Second, standards are criteria against which job success is measured. Without standards, no control system can evaluate job performance. All control systems have four features: standards, measures, correction, and feedback. Job performance standards are developed from job analysis information and then actual employee performance is measured."
Peranan deskripsi jabatan sangat penting bahkan secara legalitas merupakan salah satu persyaratan bagi organisasi. Dalam hal ini Werther, Jr. dan Davis (1996 : 130) menyatakan bahwa :
"Job description is the job summary, a written narrative that concisely summarizes the job in a few sentences. Most authorities recommend that job summaries specify the primary actions involved. Then, in a simple, action oriented style, the job description list the job duties. Since the effectiveness of other human resources actions depends on an understanding of the job, each major duty is described in terms of the actions expected. Tasks and activities are identified. Performance is emphasized."
Lebih lanjut, Werther, Jr. dan Davis (1996:134) mengemukakan bahwa rancangan jabatan yang buruk dapat mengakibatkan produktivitas yang rendah, keluarnya pegawai, kemangkiran, keluhan, sabotase, munculnya serikat buruh, pengunduran diri karyawan dan masalah-masalah lainnya dengan pendapat sebagai berikut :
"Poorly designed jobs may lead to lower productivity, employee turnover, absenteeism, complaints, sabotage, unionization, resignations, and other problems. Organizational elements of job design are concerned with efficiency. Achieving a high quality of work life requires that jobs are well designed. "
Penilaian kinerja adalah proses yang dinamis dan saling berhubungan dengan berbagai aktivitas organisasi. Kinerja organisasi tergantung pada kinerja unit-unit kerja, sementara kinerja unit-unit kerja tergantung pada kinerja orang-orang di dalamnya. Oleh karena itu sasaran-sasaran stratejik organisasi harus dapat dijabarkan dalam sasaran-sasaran unit kerja untuk kemudian direduksi menjadi sasaran-sasaran kinerja individu.
Penilaian kinerja juga dapat digunakan untuk mematahkan dugaan bahwa kondisi sumber daya manusia Indonesia berkualitas rendah terutama di bidang keuangan. Hal ini berbeda sekali dengan anggapan pada tenaga kerja di negara-negara maju seperti Jepang atau China yang terkenal dengan tenaga kerjanya yang ulet. Dengan adanya sistem penilaian kinerja yang baik di setiap perusahaan yang ada di Indonesia, baik lokal maupun asing diharapkan dapat mematahkan anggapan tadi dan dapat meningkatkan persaingan bisnis Indonesia di dunia internasional. Kegiatan operasional perusahaan-perusahaan multinasional (MNC) yang melewati batas negara menurut Sobirin (2007) memunculkan masalah budaya dimana pemahaman organiasasi sebagai hasil kebudayaan dan di saat yang sama organisasi dianggap memiliki budaya merupakan kajian terhadap organisasi tidak lagi bersifat linear.
Perusahaan asing sebesar Epson juga menyadari bahwa persaingan bisnis di Indonesia semakin ketat. Bukan hanya investasi modal yang besar saja yang diperlukan oleh Epson untuk menjadi perusahaan printer besar di Indonesia, tetapi juga sumber daya manusia yang menjalankan bisnisnya sehari-hari sehingga Epson tetap dapat bertahan di Indonesia. Sebagai perusahaan printer asing yang menanamkan modalnya di Indonesia, Epson memerlukan kekuatan untuk bersaing dengan perusahaan printer lain baik lokal maupun asing yang kian banyak dari tahun ke tahun. Untuk itu maka Epson bukan hanya memerlukan modal investasi yang besar saja tetapi juga sumber daya manusia yang handal untuk menjalankan bisnisnya.
EPSON yang bersaing dengan perusahaan-perusahaan printer lain yang sudah dikenal namanya di dunia memerlukan suatu sistem organisasi yang bisa mengelola, mengarahkan, memantau hingga mengevaluasi seluruh aspek bisnisnya, tidak terkecuali adalah pengelolaan sumber daya manusia. EPSON memerlukan sistem manajemen yang mampu mengelola para tenaga kerjanya agar bisa menjadi kekuatan perusahaan. Dan bukan hanya mengelola, seperti perusahaan lainnya, EPSON juga memerlukan suatu sistem penghargaan untuk karyawannya agar mereka dapat terpacu untuk bekerja dan memiliki rasa "sense of belonging" atau rasa memiliki pada EPSON sehingga mereka mampu memaksimalkan kinerja untuk meraih persaingan. Visi EPSON adalah menjadi sebuah perusahaan progresif dan dipercaya di seluruh dunia karena komitmennya untuk kepuasan pelanggan, lingkungan hidup, secara individul dan kerjasama tim. Visi tersebut termuat dalam Management Philosophy EPSON sebagai berikut:
"EPSON is a progressive company trusted throughout the world because of our commitment to customer satisfaction, environmental, individually, and teamwork. We are confident of our collective skills and most challanges with innovative and creative solution.
Dari filosofi tersebut, EPSON menginginkan kualitas sumber daya manusia yang tinggi, yang mampu baik secara individu maupun kolektif berkembang menjadi pribadi yang inovatif dengan memberikan solusi-solusi kreatif bagi para pelanggan.Seperti perusahaan-perusahaan Jepang lainnya, EPSON pun memiliki kinerja bangsa yang sudah tertanam turun temurun. Sistem kerja yang mereka anut disebut dengan sistem 5'S, Poerwopoespito dan Utomo (2000:15) menyatakan :
"Bangsa Jepang tidak memulai kebangkitannya dengan suatu sistem yang canggih dan tidak ingin mencapai sesuatu dengan jalan pintas. Mereka membangun kekayaan dengan sederhana, seperti dengan system 5 S yaitu: Seiri, Seton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke (pemilahan, penataan, pembersihan, pemantapan, dan kebiasaan) untuk memelihara kondisi yang mantap dan memelihara kebiasaan yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik. Selain itu, mereka selalu mengadakan perubahan/perbaikan terus-menerus untuk mencapai dan mendapatkan segala sesuatu yang lebih baik di tempat kerja. Mereka mau belajar seumur hidup, bahkan mau bekerja lembur tanpa menuntut upah lembur."
Jelas terlihat bahwa secara umum, Perusahaan Jepang menuntut adanya kinerja tinggi dan loyalitas tinggi, oleh sebab itu tingkah laku dan kedisiplinan karyawan pun tidak luput diperhitungkan oleh perusahaan. Hasil kajian Mc Kenzie menyatakan bahwa kemampuan perusahaan Jepang bertahan tidak lepas dari peran budayanya yang begitu kukuh. Budaya bagi bangsa Jepang tidak saja menjadi landasan dalam cara mengelola kegiatan organisasi perusahaan. Bangsa Jepang paling tidak mengajarkan bahwa untuk menjadi bangsa yang kuat, bangsa Jepag tidak boleh bercerai berai melainkan harus bersatu dan tidak boleh saling menyalahkan. Kalaulah diantara mereka ada yang salah maka orang tersebut harus secara sadar dan bersikap ksatria mengakui kesalahannya -itulah harakiri, jika bisa dikatakan demikian, yang dalam konteks bisnis ditandai dengan mundurnya seorang CEO jika perusahaan yang dikelolanya mengalami kemunduran sangat tajam. Selain itu, Orang Jepang misalnya lebih suka menggunakan kata "kita" bukan "saya" sebagai ujud dari kolektivitas bangsa.
Selain itu mereka juga mengadakan perbaikan yang kontinu pada sistem kerja mereka untuk mendapatkan tujuan yang diinginkan dan kondisi yang lebih baik lagi. Intinya adalah mereka mau belajar pada pengalaman untuk diperbaiki terus menerus sehingga mereka tahu sistem yang lebih baik dari sebelumnya. Untuk itulah mereka memerlukan banyak sistem penilaian kinerja. Penilaian kinerja yang baik adalah penilaian kinerja yang tidak hanya dilakukan satu arah tetapi juga dilakukan dua arah bahkan tiga arah. Penilaian kinerja dua arah adalah penilaian kinerja yang dilakukan oleh atasan untuk bawahan dan sebaliknya, bawahan untuk atasan, sedangkan penilaian kinerja tiga arah dilakukan oleh atasan, bawahan, dan rekan sekerja.
Penilaian kinerja ini dilakukan dengan melakukan pemberian nilai untuk hasil kerja selama satu kurun waktu sehingga dapat dilihat dan diketahui pencapaian target, performa dan semangat kerja, kelemahan dan kekuatan karyawan termasuk di dalamnya masalah-masalah yang dihadapi, dan perhitungan objektif dari orang lain akan hasil kerja karyawan. Dari penilaian kinerja ini dapat diukur kompensasi atau sistem penghargaan bagi karyawan agar potensi karyawan tidak terbuang sia-sia dan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi perusahaan dan begitu juga sebaliknya, karyawan bisa memanfaatkan secara maksimal potensi perusahaan untuk pengembangan dirinya.
Adanya ketidak puasan akan penilaian hasil kerja mereka menyebabkan turn over karyawan yang tinggi pada perusahaan sehingga mengakibatkan menurunnya daya saing perusahaan. Karyawan tidak lagi menjadi asset perusahaan dan mereka pun akhirnya akan bertindak diluar jalur yang telah ditentukan dan membuat lemah daya saing perusahaan. Selain itu, turn over karyawan yang tinggi dapat menyebabkan ketimpangan pada permintaan dan penawaran tenaga kerja di lapangan kerja, banyak tenaga kerja yang sebenarnya masih diperlukan kapabilitasnya oleh perusahaan tersebut tetapi kemudian kembali menjadi pengangguran, sedangkan tenaga kerja lain yang menganggur tidak bisa menggantikan tempatnya. Oleh sebab itu diperlukan sistem penilaian kinerja yang juga bisa menekan angka turn over karyawan.
Dengan sistem penilaian kinerja yang baik maka perusahaan sebesar EPSON bisa mengurangi perputaran keluar masuk karyawan (turn over karyawan) dan bisa mengerahkan kemampuan dari setiap individu karyawannya secara maksimal untuk meraih persaingan bisnis di industri peripheral (alat-alat pendukung Personnal Computer / Notebook). Karena pentingnya sumber daya manusia bagi perusahaan dan pentingnya sistem manajemen yang mengelola tenaga kerja ini, maka perusahaan memerlukan sistem penilaian kinerja yang baik sehingga karyawan merasa bahwa hasil kerjanya benar -benar dihargai oleh perusahaan dan setiap jenjang karyawan dapat menciptakan kondisi kerja yang kondusif untuk bersaing di dunia bisnis Indonesia. Pentingnya penilaian kinerja (performance appraisal) ini karena bila ada kesalahan pada sistem penilaian kinerja bisa menjadi salah satu sumber masalah dalam kemunduran perusahaan, oleh sebab itu baik sistemnya sendiri maupun poin-poin yang digunakan untuk menilai kinerja perlu disusun sedemikian rupa sehingga penilaian kinerja menjadi suatu sistem yang efektif bagi peningkatan kerja karyawan dan mampu menahan perputaran keluar masuk karyawan menjadi rendah.
Saat ini PT EPSON INDONESIA menerapkan sistem penilaian kinerja dengan menggunakan metode PDCA (Plan, Do, Check, and Action) dan WRD (Working Related Dimensions). PDCA adalah penilaian pekerjaan oleh masing-masing karyawan berdasarkan target pekerjaan yang dilakukan, sedangkan WRD adalah hasil penilaian yang dibuat oleh atasan baik atasan langsung maupun bukan atasan langsung yang berdasarkan loyalitas,sikap dan tingkah-laku masing-masing karyawan. Hasil dari penilaian tersebut akan digunakan pihak manajemen untuk memutuskan promosi ataupun demosi bagi seorang karyawan. Proporsi penilaian untuk karyawan tingkat junior staff sampai dengan senior staff adalah 30% untuk PDCA dan 70% untuk WRD. Selanjutnya, pada tahun mendatang, PT Epson Indonesia merencanakan akan menerapkan sistem penilaian yang berbasis Hay System dimana penilaian dengan sistem tersebut bertitik tolak pada job description karyawan di masing-masing area pekerjaan.

1.2 Perumusan Masalah
Dengan melihat latar belakang tersebut, maka dirumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
Bagaimana pelaksanaan sistem penilaian kinerja di PT. EPSON INDONESIA ?

1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mengidentifikasi sistem penilaian kinerja yang dilakukan PT. Epson Indonesia.
2. Memahami permasalahan pokok pada sistem penilaian kinerja di PT Epson
Indonesia yang menggunakan perangkat Plan, Do, Check, and Action dan Working Related Dimensions yang dilakukan pihak manajemen PT EPSON INDONESIA.
3. Menentukan upaya-upaya yang dapat dilakukan bagian Human Resources untuk dapat menjalankan perangkat penilaian kinerja bila terdapat kendala dalam penerapan sistem tersebut.

1.4 Signifikansi Penelitian
Penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh:
1. Divisi sumber daya manusia:
Dengan penelitian ini diharapkan divisi sumber daya manusia bisa mengevaluasi sistem dan alat performance appraisal sehingga bisa mengembangkan sistem yang lebih baik.
2. Unit Manajerial lini atas:
Diharapkan para atasan dan para penyelia bisa memberikan penilaian kinerja yang lebih objektif dan memberikan evaluasi kerja secara terbuka kepada para bawahannya.
3. Karyawan Epson:
Karyawan diharapkan mendapatkan pemikiran yang terbuka dan luas tentang sistem penilaian kinerja yang dilakukan oleh Epson Indonesia sehingga mereka dapat termotivasi untuk meningkatkan kinerjanya.
4. Akademis:
Memberikan tambahan wawasan tentang pentingnya pemberian deskripsi jabatan (job description) kepada para pemegang jabatan.

1.5 Batasan Penelitian
Penelitian ini dilakukan di PT. Epson Indonesia sebagai Principal yang berfungsi Sales and Marketing Office. Fokus penelitian adalah sistem penilaian kinerja yang digunakan oleh empat departemen yaitu Business Corporate, Retail Sales, Administration, dan Technical Support/Customer Service, sampai dengan penelitian ini berakhir (saat sekarang).

1.6 Sistematika Penulisan
BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini diuraikan mengenai latar belakang penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisi landasan-landasan teori yang digunakan untuk membahas materi pokok. Teori-teori yang digunakan antara lain adalah teori performance management, performance appraisal, performance measurement, employee turn over, dan juga akan dibahas tentang motivasi kerja, dan kompensasi atau penghargaan kerja.
BAB III : METODA PENELITIAN
pada bab ini dipaparkan metode, tahapan, dan batasan pada penelitian ini.
BAB IV : GAMBARAN PERUSAHAAN DAN HASIL PENELITIAN
Dalam bab ini akan diuraikan mengenai obyek penelitian yang meliputi sejarah organisasi, struktur organisasi, dan sistem yang digunakan oleh organisasi tersebut. Selain itu Dalam bab ini dikemukakan latar belakang perusahaan, dan pembahasan dari apa yang menjadi permasalahan penelitian. Bab ini pun mencoba untuk menjawab rumusan masalah sehingga tujuan penelitian dapat tercapai.
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
Merupakan penutup pada penelitian yang berisi kesimpulan dari analisa masalah dan merupakan jabaran deskriptif dari tujuan yang telah tercapai pada penelitian ini. Dan saran yang dapat digunakan untuk perbaikan objek penelitian.
READ MORE - TESIS ANALISA SISTEM PENILAIAN KINERJA DI PT. EPSON INDONESIA

TESIS PERAN ZAKAT DALAM OPTIMASI PORTOFOLIO INVESTASI ASET (STUDI KASUS PADA UNIT USAHA SYARIAH BANK X)

(KODE : PASCSARJ-0109) : TESIS PERAN ZAKAT DALAM OPTIMASI PORTOFOLIO INVESTASI ASET (STUDI KASUS PADA UNIT USAHA SYARIAH BANK X) (PRODI : EKONOMI KEUANGAN SYARIAH)




BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Kehidupan manusia didunia ini selalu dipenuhi dengan berbagai persoalan, karenanya agama diturunkan untuk menjawab persoalan-persoalan tersebut. Islam dengan 1,5 milyar pemeluknya (hal.6 Morris, 2001) adalah agama yang mengatur secara komprehensif sendi-sendi kehidupan didunia melalui kitab sucinya yaitu Al Qur’an dan Hadits. Islam memiliki hukum-hukum yang yang bersifat universal dan berlaku sepanjang masa.
Islam dalam bahasa Arab berarti selamat, damai, tunduk, pasrah dan berserah diri, sehingga Islam berarti penyerahan diri secara total kepada pencipta seluruh alam yaitu Allah SWT. Dengan demikian, bagi pemeluk agama Islam, Al Qur’an dan Hadist adalah petunjuk dari Allah dan Rasulnya dalam pengaturan segala aspek kehidupannya agar selamat. Hal ini berarti tidak ada lagi pemisahan pengaturan antara aspek ekonomi dengan aspek spiritualnya, semua harus merujuk pada Al Qur’an dan Hadist. Perintah ini tertera dalam QS Al Baqarah 2:208
‘Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu he dalam Islam secara keseluruhan...."
Dalam Islam diyakini bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini hanyalah milik Allah, pemilik mutlak segala sesuatu, sedangkan manusia adalah khalifatullah. Manusialah yang ditugaskan untuk mengelola bumi. Allah memerintahkan manusia untuk mencari karunia-Nya atau kekayaan dan dalam proses pencarian tersebut manusia tetap diwajibkan untuk terus mengingat Allah. Selanjutnya, jika harta kekayaan telah dimiliki, maka harta tersebut haruslah dikelola dengan baik. Harta kekayaan tidak pernah dianjurkan untuk ditumpuk sebagai harta yang ‘idle’ seperti tertera dalam QS 104:2-3, melainkan hams dimanfaatkan untuk mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Pemanfaatan atas harta yang dimiliki juga sangat dianjurkan oleh Rasulullah, diriwayatkan bahwa Nabi Muhamad SAW mengatakan "Sesungguhnya Allah tidak menyukai kalian menyia-nyiakan harta" (HR Bukhari). Selanjutnya, Aisyah meriwayatkan bahwa Nabi SAW berkata "Siapa sajayang mengerjakan tanah tak bertuan akan lebih berhakatas tanah itu." (HR.Bukhari) (hal.65 Mannan,1992).
Kekayaan yang dibiarkan saja akan lenyap habis dimakan zakat, karena pemiliknya harus membayar zakat tiap tahun yang akan mengurangi jumlah kekayaan yang tidak tumbuh tersebut (hal.16 Sadeq, 2002). Sementara itu Ibnu Khaldun mengatakan bahwa kekayaan tidak tumbuh manakala ditimbun dan disimpan. la akan tumbuh dan berkembang bila dibelanjakan untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat, untuk diberikan kepada yang berhak dan menghapuskan kesulitan. (hal.135 Chapra, 2001).
Harapan hidup, pendidikan dan pengetahuan serta kesejahteraan yang meningkat telah mendorong manusia untuk berinvestasi. Investasi yang merupakan kegiatan untuk mengembangkan kekayaan (uang) yang dimiliki saat ini untuk mendapatkan keuntungan yang belum pasti dimasa mendatang, pada dasarnya adalah suatu upaya untuk menyiapkan masa depan, karena hal ini juga merupakan perintah dalam Al Qur’an surat al-Hasyr ayat 18 sebagai berikut:
‘Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan".
Nabi Muhammad SAW juga mengingatkan "Tahanlah sebagian hartamu untuk masa depanmu; hal itu lebih baik bagimu" (HR Bukhari, Muslim).
Menurut Huda dan Nasution (hal.18, 2007), konsep investasi selain sebagai pengetahuan juga bernuansa spiritual karena menggunakan norma syariah, sekaligus merupakan hakikat dari sebuah ilmu dan amal, oleh karenanya investasi sangat dianjurkan bagi setiap muslim.
Investasi dalam Islam pada prinsipnya adalah menggunakan harta untuk suatu kegiatan usaha yang akan meningkatkan jumlahnya melalui cara-cara yang sesuai syariah. Investasi yang Islami bisa dilakukan secara langsung pada sektor riil maupun melalui pasar uang syariah dan pasar modal syariah. Sedangkan rambu-rambu pengembangan harta kekayaan dalam Islam adalah terhindar dari unsur riba, gharar dan maysir. Harus juga terhindar dari unsur haram, kebathilan dan ketidak adilan. Kemudian harta tersebut harus juga disucikan dengan mengeluarkan zakat harta, jika telah sampai pada nishab dan haul-nya. Dengan demikian, investasi Islami mencakup dimensi dunia dan akhirat. Inilah pembeda antara investasi dalam ekonomi Islam dan investasi konvensional. Dalam ekonomi konvensional, investasi dilakukan hanya untuk keuntungan dunia semata, tidak memasukkan unsur akhirat.
Trend pada abad 21 dalam Islamization process yang dikembangkan oleh pemikir kontemporer ekonomi Islam adalah pertama, mengganti ekonomi sistem bunga dengan sistem ekonomi bagi hasil. Kedua, mengoptimalkan sistem zakat dalam perekonomian. Artinya paradigma berinvestasi harus dirubah dari return yang pasti untuk semakin meningkatkan kekayaannya menjadi paradigma profit sharing dan pada saat yang sama harus menyadari adanya kewajiban untuk menyisihkan 2,5% zakat sebagai bagian dari "milik publik". (Mufraini 2006, hal. 9)
Metwally (1995 hal.71) menyatakan bahwa besaran zakat sebesar 2,5% diambil dari hasil investasinya saja. Sementara aset yang diinvestasikan tidak terkena zakat. Pendapat inilah yang banyak dipakai oleh lembaga keuangan syariah di Indonesia. Namun demikian, ada pendapat lain yang dikemukakan oleh beberapa ahli fiqih diantaranya Utsaimin (2008, hal.214) maupun Qardhawi (2007, hal.267) menyatakan bahwa dana tunai, sertifikat hutang, obligasi dan sekuritas, sertifikat tabungan atau deposito dan saham, zakatnya diambil dari aset tersebut bukan dari hasilnya saja. Thesis ini mengikuti pendapat yang terakhir bahwa aset yang diinvestasikan akan terkena zakat, termasuk modal pokoknya jika telah memenuhi syarat wajib zakat, dan dihitung sebagai zakat kekayaan.
Zakat adalah bagian dari harta yang dimiliki untuk diberikan kepada yang berhak, utamanya kaum fakir dan miskin, karena bagian tersebut adalah milik mereka. Pengeluaran zakat dari harta merupakan suatu kewajiban yang perintahnya diberikan oleh Allah SWT langsung dalam AlQur’an Surat At Taubah 9:103
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”
Begitu pentingnya zakat ini hingga zakat dihubungkan dengan shalat sebanyak 82 kali dalam AlQur’an. Abdullah bin Mas’ud r.a seorang sahabat dan Jabir bin Zayd r.a seorang tabiin-percaya bahwa Allah tidak akan menerima shalat seseorang jika orang tersebut tidak membayar zakat. Pendapat ini ditegaskan khalifah Abu Bakar r.a yang memutuskan untuk memerangi orang orang yang meninggalkan shalat dan tidak membayar zakat (Syaikh 2008).
Hadits lain yang diriwayatkan oleh Durrul Mantsur menyatakan dari Ali r.a. Rasulullah SAW, bersabda,
"Sesungguhnya Allah Swt, telah mewajibkan atas kaum muslimin yang kaya suatu kadar zakat dalam harta mereka, yang akan mencukupi orang-orang fakir diantara mereka. Dan tidaklah ada sesuatu yang menyusahkan orang-orang fakir itu jika mereka kelaparan atau tidak berpakaian, kecuali karena kehilangan orang-orang kaya yang tidak membayar zakatnya. Ingatlah! Sesungguhnya Allah Swt, akan menghisab mereka dengan hisab yang keras dan akan mengadzab mereka dengan adzab yang sangatpedih." (Al khandhalawi rah.a, hal 277).
Jelaslah zakat menjadi penting karena didalamnya terkandung ajaran pendistribusian kekayaan yang adil sebagai jaminan sosial diantara kaum muslimin disamping menyelamatkan si pembayar zakat dari penyakit moral berupa kecintaan dan ketamakan terhadap kekayaan dan meningkatkan keimanan serta kesadaran moral.
Sedangkan panduan berinvestasi terdapat dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 261 :
“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seumpama sebuah biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai itu berisi seratus biji. Dan Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dikehendak-Nyai. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.”
Ayat diatas memberikan panduan berinvestasi dijalan Allah, yaitu dari tiap butir benih yang diinvestasikan akan menjadi 700 biji. Sehingga berinvestasi di jalan Allah, melalui zakat, infaq dan shodaqoh diikuti dengan syarat beramal yaitu ikhlas, tidak riya dan tidak menyakiti yang diberi, akan mendapatkan balasan berlipat ganda yaitu sebesar 700 kali karena bagi orang yang beriman, janji Allah adalah benar, dan tidak perlu diragukan lagi.
Industri keuangan Islam sedang tumbuh sangat pesat. Sejak permulaan 3 dekade yang lalu, lembaga keuangan Islam terus bermunculan hingga mencapai jumlah 300 buah tersebar di lebih dari 75 negara, mengelola aset sebesar 500 milyar US Dollar (www.global.com.kw). Di Indonesia perkembangan keuangan Islam berawal sejak tahun 1992. Dimulai dengan berdirinya Bank Muamalat yang merupakan bank Islam pertama di Indonesia. Lima belas tahun kemudian, berdasarkan data statistik perbankan syariah Desember 2007, tercatat telah berdiri 3 Bank Umum Syariah, 21 Unit Usaha Syariah dan 114 Bank Perkreditan Rakyat Syariah dengan 482 kantor Pusat dan kantor cabang serta 25 Unit Pelayanan Syariah (www.bi.go.id)
Perkembangan Bank Syariah di Indonesia memang cukup pesat, dilihat dari pertumbuhan asset perbankan syariah yang mencapai rata-rata 48,99% pertahun, sejak 2003 hingga 2007. Pada kurun waktu yang sama, perbankan konvensional hanya tumbuh rata-rata 13,22% pertahun. Meskipun demikian, per Desember 2007 market share yang dimiliki baru mencapai 1,76% dari total market share perbankan nasional. Sungguh ironi dengan kenyataan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia adalah muslim.
Sesuai dengan fungsinya, Bank adalah lembaga intermediasi keuangan antara pihak penyimpan dana (nasabah) dan yang membutuhkan dana. Nasabah mau menyimpan dananya di Bank karena ia percaya bahwa bank dapat memilih alternatif investasi yang menarik yang dapat menghasilkan return yang terbaik. Penelitian yang dilakukan oleh Mangkuto (hal.53-76, Eksis 2005) maupun Samsudin (hal.77-91, Eksis 2005) menjelaskan bahwa keputusan nasabah untuk menggunakan jasa bank syariah dan melakukan penempatan dana investasinya secara khusus sangat dipengaruhi oleh tingkat imbal hasil yang akan didapatnya. Oleh karenanya bank hams melakukan pemilihan investasi dengan seksama, karena kesalahan dalam pemilihan investasi akan membawa akibat rendahnya bagi hasil yang diperoleh, yang akhirnya menurunkan tingkat distribusi bagi hasil bagi para nasabahnya.
Tampak jelas disini bahwa sebagai lembaga keuangan syariah Bank mempunyai tugas untuk memaksimumkan pertumbuhan aset investasi yang dimilikinya disamping juga menyisihkan 2,5 % zakat dari aset tersebut sebagaimana trend dalam Islamization process yang sedang dikembangkan oleh pemikir kontemporer abad 21 yaitu mengoptimalkan sistem zakat dalam perekonomian. Suatu penelitian kami lakukan pada sebuah Unit Usaha Syariah Bank X untuk mengetahui bagaimana penerapan sistem zakat pada aset investasinya.
Unit Usaha Syariah Bank X adalah suatu unit usaha yang memiliki nilai Return on Asset (ROA) sebesar 2,9% dihitung berdasarkan laporan keuangan bulan Desember 2007. Angka ini cukup tinggi dibandingkan rata-rata statistik perbankan syariah yang berada pada kisaran 1,78%, namun cukup rendah bila dibandingkan dengan ROA bank lain yaitu BPD Jabar yang memiliki angka 3,8% pada periode yang sama.
Melalui penelitian awal diketahui bahwa UUS bank X belum menerapkan metode tertentu dalam kebijakan portofolionya. Sampai saat ini yang dipakai adalah perhitungan trial error, sehingga tidak ada rumusan yang jelas, bagaimana menginvestasikan dana yang didapat agar optimum.

1.2 Perumusan Masalah
Berinvestasi dalam ekonomi Islam berbeda dengan ekonomi konvensional. Investasi Islami yang menggunakan syariah Islam merupakan kegiatan berinvestasi pada instrumen investasi yang halal saja dengan menghindari unsur riba, gharar, maysir, subhat, haram, kebathilan dan ketidak adilan. Kemudian mengeluarkan zakat dari harta yang diinvestasikan bila harta telah mencapai syarat terpenuhinya wajib zakat. Pengenaan zakat pada aset investasi belum tampak pada UUS Bank X.
Metwally yang dikutip oleh Sadeq (2002, hal.16 ) menyatakan bahwa zakat diambil hanya dari return investasi saja. Mereka akan dibebaskan dari zakat atas harta yang diinvestasikan. Pendapat serupa banyak dianut kalangan perbankan syariah di Indonesia, dimana investor akan diberi pilihan apakah bersedia bila bagi hasil yang akan didapat dari suatu investasi akan dipotong zakatnya oleh pihak bank atau tidak. Banyak pula yang mengqiaskan zakat atas aset investasi dengan investasi pada tanaman, dimana zakat diambil dari hasilnya bukan dari pokok investasi.
UUS Bank X menghadapi kondisi dimana bagi hasil yang didapat tidak maksimal. Melalui penelitian awal diketahui bahwa sampai saat ini dalam menentukan portofolio investasi aset, UUS Bank X belum mempunyai metode yang dianut dalam membentuk suatu portofolio investasi yang optimum, sehingga mendapatkan bagi hasil yang maksimum.
Rumusan masalah dalam thesis ini adalah UUS Bank X dalam investasi portofolio tidak sepenuhnya syar’i, yaitu belum mengenakan ketentuan zakat atas aset investasinya selain tidak optimal dalam membentuk portofolio investasi. Seharusnya sebagai UUS portofolionya hams memperhitungkan ketentuan yang berlandaskan syariah diantaranya masalah zakat. Karenanya dalam thesis ini akan dievaluasi pembentukan portofolio UUS yang memperhitungkan masalah zakat. Dari rumusan permasalahan tersebut dibentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut
1. Bagaimana penerapan ketentuan zakat maal dalam manajemen portofolio aset investasi syariah yang dilakukan UUS bank X ?
2. Bagaimana membentuk portofolio yang optimal bagi UUS Bank X setelah adanya zakat maal ?
3. Apakah terdapat peningkatan hasil investasi portofolio optimal yang baru dengan penerapan zakat maal dibandingkan dengan menggunakan portofolio investasi sebelumnya?

1.3 Tujuan Penelitian
Dengan identifikasi masalah diatas, penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:
1. Membentuk portofolio optimum dengan menerapkan ketentuan zakat maal bagi UUS Bank X.
2. Mengetahui apakah ada peningkatan hasil investasi portofolio optimum yang baru dibentuk dengan memasukkan unsur zakat maal dibandingkan dengan rata-rata hasil investasi portofolio sebelumnya.
3. Memberikan usulan kepada perusahaan berdasarkan portofolio optimum baru yang dibentuk dengan menerapkan ketentuan zakat maal bagi aset investasi.

1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilakukan dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai manajemen portofolio investasi dengan menerapkan ketentuan zakat maal pada aset investasi. Selanjutnya, diharapkan dapat memperoleh gambaran yang jelas mengenai proses memaksimalkan bagi hasil melalui optimasi portofolio menggunakan metode Markowitz berikut penerapan ketentuan zakat maal pada perhitungannya dengan mengambil sample salah satu UUS bank syariah, sehingga dapat menjadi bahan masukan kepada UUS bank syariah lainnya dalam memaksimalkan bagi hasilnya, dengan memasukkan unsur zakat sebesar 2,5% pada aset investasinya. Bagi akademisi tentunya penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan untuk melakukan penelitian selanjutnya.

1.5 Batasan Masalah
Pada umumnya investasi dilakukan pada aset yang merupakan kelebihan pendapatan setelah dikurangi konsumsi. Dengan demikian, diasumsikan bahwa aset yang diinvestasikan disini merupakan harta yang telah layak zakat.
Penelitian ini dibatasi hanya pada investasi yang dominan pada portofolio investasi UUS bank X. Investasi yang dimaksud adalah pembiayaan murabaha, pembiayaan mudharabah, pembiayaan musharakah dan pembiayaan istisna, serta investasi pada obligasi syariah.
Studi kasus pada Bank X dilakukan semata-mata untuk memudahkan penulis mempresentasikan perbedaan sebelum dan sesudah pembentukan portofolio investasi dengan menggunakan teori Markowitz berikut penerapan ketentuan zakat mal karena ketersediaan data. Sehingga, data yang digunakan diasumsikan merupakan representasi aset individu ataupun lembaga.

1.6 Kerangka Pemikiran
Pemilihan metode portofolio investasi dimaksudkan untuk mendapatkan portofolio yang efisien yang memberikan bagi hasil yang diharapkan terbesar untuk tingkat risiko tertentu atau dengan kata lain tingkat risiko terendah untuk tingkat pengembalian tertentu. Memilih strategi portofolio merupakan salah satu proses manajemen investasi yang terdiri dari 5 proses yang berkesinambungan (hal 6. Fabozzi, 2002). Jika dinyatakan bahwa bagi hasil portofolio investasi tidak optimal, dan diyakini proses pemilihan portofolio merupakan penyebabnya, maka tahap inilah yang perlu diperbaiki.
Investasi yang dilakukan oleh individu muslim maupun lembaga keuangan syariah tentunya hams mengikuti kaidah investasi secara syariah. Selain berinvestasi hanya pada yang halal saja juga menerapkan ketentuan zakat atas harta yang diinvestasikan sesuai dengan petunjuk dalam Al Qur’an dan Hadist. Sehingga keuntungan yang didapat tidak hanya bersifat monetary value tapi juga spiritual value yaitu keuntungan uchrawi sebesar balasan yang dijanjikan Allah SWT yaitu sebanyak 700 kali sesuai surat Al Baqarah ayat 261.
Data-data yang digunakan untuk melakukan penelitian ini adalah data keuangan historis UUS bank X yang merupakan data outstanding pembiayaan murabaha beserta pendapatan marginnya, data outstanding pembiayaan mudharaba beserta pendapatan bagi hasilnya, data outstanding pembiayaan musyarakah beserta pendapatan bagi hasilnya, data outstanding pembiayaan ijarah beserta pendapatan marginnya, data outstanding penempatan obligasi syariah beserta bagi hasilnya dan data penempatan SWBI beserta bonusnya.
Penyelesaian permasalahan yang ditawarkan adalah membentuk portofolio investasi dengan metode Markowitz dengan memasukkan unsur zakat. Hasil investasi yang didapat akan dikenakan ketentuan zakat, sehingga investasi yang dilakukan sesuai dengan cara berinvestasi secara syariah.

1.7 Hipotesis
Penelitian ini dilakukan untuk melihat jenis investasi yang memiliki bagi hasil tertinggi, kemudian membentuk portofolio optimum bagi UUS bank X yang diharapkan memiliki bagi hasil yang lebih baik dari bagi hasil portofolio saat ini, kemudian mengurangkan zakat dari aset investasi yang terdiri dari pokok dan bagi hasilnya sehingga memenuhi ketentuan syariah. Hipotesis yang dibentuk adalah :
H0 : rata-rata return portofolio saat ini sama dengan return portofolio optimal yang baru dibentuk
H1 : rata-rata return portofolio saat ini lebih kecil dari return portofolio optimal yang baru dibentuk

1.8 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penulisan karya akhir ini adalah analisis portofolio optimal yang pembentukannya dilakukan dengan menggunakan model portofolio Markowitz dengan memasukkan unsur zakat pada penghitungannya. Pilihan ini dilakukan karena portofolio dengan model Markowitz mudah dibentuk agar sesuai dengan karakteristik investasi yang diinginkan dan tujuan
yang ingin dicapai. Jenis investasi yang digunakan dalam membentuk portofolio optimum adalah jenis investasi yang sesuai syariah yaitu pembiayaan-pembiayaan syariah, obligasi syariah dan penempatan dana pada bank Indonesia dalam bentuk SWBI. Kemudian pada akhir investasi dikeluarkan zakat sebesar 2,5% baik dari hasil investasi maupun pokoknya sesuai ketentuan dalam Islam.
Bank syariah pada prinsipnya merupakan investment banking dimana konsep investasinya merupakan equity sharing yang sangat mirip dengan berinvestasi pada saham dibursa efek. (hal. 7 Nawawi, 2006) Asumsi ini membuat teori portofolio Markowitz dapat dipergunakan dalam analisa investasi portofolio bank syariah. Untuk mempermudah perhitungan kombinasi proporsi alokasi investasi dalam pembentukan portofolio efisien akan dipergunakan program solver yang terdapat dalam software excell microsoft office.
Uji statistik testing hypothesis untuk dua sample independent akan digunakan untuk menguji apakah tingkat bagi hasil yang dihasilkan masing-masing portofolio berbeda secara statistik pada tingkat kepercayaan tertentu. Uji ini dilakukan untuk melihat apakah ada perbedaan kinerja dari portofolio yang sudah ada saat ini dengan portofolio optimal yang disusun berdasarkan teori Markowitz dengan memasukkan unsur zakat didalamnya.

1.9 Sistematika Penulisan
BAB I Pendahuluan
Pada bab ini diuraikan latar belakang permasalahan, perumusan masalah, batasan masalah, tujuan penulisan thesis, kerangka pikir, hipotesis serta metodologi penelitian yang digunakan dalam pengumpulan dan pengolahan data serta uraian mengenai sistimatika penulisan
BAB II Tinjauan Pusaka
Bab Ini menjelaskan tentang landasan teori yang dijadikan dasar dalam pemecahan masalah. Diuraikan pula berbagai informasi yang yang bersumber dari textbook, journal dan artikel yang berhubungan dengan tujuan pembahasan sebagai bahan pendukung dalam memperoleh hasil pembahasan yang lebih baik.
BAB III Metodologi dan Data Penelitian
Ruang lingkup penelitian, data yang dibutuhkan, proses pengumpulannya serta metodologi penelitian yang akan digunakan, model penelitian dalam menulis karya akhir diuraikan pada bab ini. Pada bagian akhir bab ini digambarkan alur proses penelitian.
BAB IV Analisis dan Pembahasan
Bab ini berisi penjelasan mengenai jenis data yang telah dikumpulkan. Pada bab ini juga diuraikan tahap-tahap penelitian serta gambaran hasil pengolahan data menggunakan metode optimasi portofolio Markowitz, dengan mengenakan ketentuan zakat pada aset investasi tersebut. Kemudian membandingkan bagi hasil dari portofolio optimal yang baru dibentuk dengan bagi hasil portofolio UUS Bank X sebelum dibentuk portofolio optimal.
BAB V Kesimpulan dan Saran
Bab ini menyimpulkan hasil penelitian yang dilakukan serta memberikan masukan dari hasil analisa untuk dapat dipergunakan oleh pihak yang berkepentingan.
READ MORE - TESIS PERAN ZAKAT DALAM OPTIMASI PORTOFOLIO INVESTASI ASET (STUDI KASUS PADA UNIT USAHA SYARIAH BANK X)

TESIS PENGARUH METODE PEMBELAJARAN BERBASIS PORTOFOLIO TERHADAP MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR IPS

(KODE : PASCSARJ-0108) : TESIS PENGARUH METODE PEMBELAJARAN BERBASIS PORTOFOLIO TERHADAP MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR IPS (PRODI : PENDIDIKAN DASAR)




BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Penelitian
Pendidikan merupakan suatu proses pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas, sesuai dengan tujuan dan fungsi pendidikan nasional dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003, Bab II Pasal 3 yang menyatakan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, sedangkan tujuan Pendidikan Nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar dapat menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Fungsi dan tujuan pendidikan itu dapat diwujudkan melalui pembentukan watak mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga pada pendidikan tinggi melalui peningkatan kualitas proses pembelajaran.
Kesungguhan bangsa Indonesia untuk meningkatkan mutu pendidikan terlihat pula dalam UUD 1945 amandemen ke 4 pasal 31 Bab XII tentang Pendidikan dan Kebudayaan ayat 4 yang berbunyi: " Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. Anggaran 20% untuk biaya khusus pendidikan tentunya sangat membantu untuk peningkatan kualitas pendidikan di negara berkembang ini menjadi negara yang dapat memposisikan sebagai negara maju di mata dunia. Sikap optimis akan bermakna dan menjadi kenyataan di masa yang akan datang bila ada keseriusan dukungan dan komitmen dari semua pihak terkait baik masyarakat, sekolah maupun pemerintah.
Persoalan kualitas pendidikan ini seakan-akan tidak ada habis-habisnya, setiap saat harus mencari wujud bam untuk menghadapi perkembangan dan pembahan zaman serta kemajuan teknologi yang semakin pesat.
Sekolah mempakan lembaga formal yang berfungsi merealisasikan kesungguhan bangsa untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM) dan mempunyai tugas untuk mencerdaskan anak bangsa agar menjadi manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan sesuai dengan keinginan orang tua dan harapan bangsa.
Sebagai institusi formal, sekolah berperan mempersiapkan peserta didik menjadi manusia yang berkualitas dalam arti dapat memecahkan masalah kehidupan baik masa kini, maupun masa mendatang, dengan memaksimalkan perkembangan potensi-potensi yang ada pada peserta didik.
Atas dasar itulah maka sekolah wajib menyelenggarakan proses belajar mengajar dengan baik dengan memperhatikan berbagai faktor penunjang yang akan mempermudah tercapainya harapan di atas dengan optimal. Tentunya untuk mewujudkan harapan bangsa di atas, maka lembaga sekolah berkewajiban selalu untuk mengevaluasi program dan bempaya selalu lebih baik dari program sebelumnya.
Dalam mempersiapkan manusia Indonesia yang berkualitas khususnya pada jenjang pendidikan dasar, guru merupakan sosok yang berperan penting sebagai penyedia informasi untuk pengembangan potensi siswa dalam pengelolaan keragaman situasi pembelajaran. Banyak kendala dan tantangan yang dihadapi dan mesti ditanggulangi oleh guru. Khusus untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, guru sudah saatnya memberikan perhatian yang lebih besar terhadap model pembelajaran yang digunakan. Selama ini model pembelajaran yang digunakan masih bersifat konvensional, yang mengacu kepada upaya-upaya menyelesaikan materi hanya dengan menggunakan pendekatan duduk, dengar, catat, hal ini tidaklah mampu untuk mengembangkan potensi siswa yang ada.
Dalam proses pembelajaran, para guru selalu dituntut untuk bempaya menciptakan iklim kelas yang nyaman serta menyenangkan peserta didik. Materi yang diberikan betul-betul mempunyai makna secara praktis yang dapat berguna untuk kehidupannya. Tetapi pada kenyataannya, masih banyak sekolah yang berorentasi pada hasil akhir evaluasi/orentasi nilai akhir dengan mengabaikan proses. Sehingga lembaga itu bempaya penuh untuk membantu para siswa dalam menjawab soal evaluasi akhir. Memberikan kemudahan-kemudahan dalam proses pendidikan dengan mengesampingkan hakekat pendidikan itu sendiri, seperti remedial dapat diganti dengan barang atau membeli sesuatu yang tidak ada nilai tambah pada penguasaan ilmu peserta didik, memaksa/memarahi, dan menghukum siswa dengan tidak dimengerti alasannya. Hal tersebut dapat menyebabkan para siswa belajar karena takut pada guru bukan atas dorongan keingintahuannya. Sehingga bukan hal yang mustahil siswa hanya berorentasi pada hasil akhir, bukan pada prosesnya yang diutamakan.
Sebagai akibat dari pembelajaran yang kurang berorientasi pada proses maka munculah mental-mental para peserta didik untuk melakukan perbuatan yang tidak terpuji dan melanggar norma dengan melakukan perbuatan yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai. Sehingga tidak jarang terdengar jual beli nilai ataupun pembocoran soal ujian. Perbuatan jalan pintas untuk mendapatkan nilai di atas sangat berdampak terhadap kemampuan peserta didik nantinya setelah mereka menamatkan suatu jenjang pendidikan.
Sedangkan akibat jangka panjang dari pembelajaran yang hanya berorientasi pada nilai di atas adalah munculnya para lulusan yang tidak siap pakai dan kurang mampu untuk berkarya sebagai akibat dari kurangnya proses selama dalam pendidikan. Selanjutnya akan muncul generasi-generasi yang tidak kreatif dan kurang tanggap membaca peluang apalagi untuk menciptakan lapangan kerja. Hal di atas sesuai dengan yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat (200, 45-49), yang menjelaskan bahwa, "kelemahan mentalitas bangsa Indonesia setelah revolusi adalah sikap mental yang merendahkan mutu dan sudah hampir hilang kebutuhan akan kualitas dari hasil karya serta hilangnya rasa peka terhadap mutu". Lebih mendalam Koentjaraningrat menjelaskan kelemahan mentalitas pasca revolusi antara lain berupa munculnya mentalitas yang suka menerabas, mentalitas yang bernafsu untuk mencapai tujuan secepat-cepatnya tanpa banyak melakukan kerelaan berusaha, pengorbanan, usaha yang bertahap selangkah demi selangkah, semua itu sebagai akumulasi dari akibat mentalitas merendahkan mutu.
Adapun akibat jangka pendek dari pelaksanaan pendidikan yang hanya berorientasi pada hasil adalah rendahnya minat dan motivasi siswa untuk melakukan proses belajar. Siswa kurang berminat dengan mated pelajaran. Indikasi ini terlihat dengan rendahnya usaha siswa dalam berbagai kegiatan dalam kelas maupun kegiatan belajar diluar kelas seperti pekerjaan rumah (PR) atau usaha yang rendah dalam mengikuti ujian. Siswa juga menjadi agresif dalam mengganggu siswa lain, dan dengan mudahnya meninggalkan kelas dan semuanya bermuara pada pelanggaran aturan sekolah.
Perilaku-perilaku negatif di atas sebenarnya dapat ditanggulangi jika guru dapat memotivasi belajar siswa dengan model pembelajaran yang menyenangkan dan membuat tantangan-tantangan dalam proses belajar. Jika motivasi sudah tumbuh dalam diri siswa, mereka akan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan pembelajaran. Kreatifitas guru dalam melaksanakan berbagai model dalam pembelajaran sebagai modal yang sangat berharga dalam memotivasi siswa dalam belajar sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar.
Sekolah Dasar merupakan sekolah yang sangat mendasari para siswa untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Pendidikan dasar bertujuan memberikan bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan kehidupan sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan anggota umat manusia serta mempersiapkan siswa untuk mengikuti pendidikan menengah. Depdikbud (1993: 16),
Keseriusan para guru di tingkat dasar sangat menentukan keberhasilan belajar siswa di tingkat berikutnya. Hal ini beralasan karena pendidikan di tingkat dasar, merupakan modal dasar bagi siswa untuk dapat/mampu mengembangkan pengetahuan ke arah lebih luas dan mendalam tentang apa yang dipelajarinya.
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan di Sekolah Dasar dengan fokus kajiannya adalah kehidupan manusia dengan sejumlah aktivitasnya. Materi pendidikan IPS berasal dari disiplin ilmu-ilmu sosial yang kemudian diorganisasi dan disederhanakan untuk kepentingan pendidikan. (Nana Supriyatna, 2007: 3). Pendidikan IPS sebagai bidang studi terkait dengan kenyataan sosial yang bertujuan pembentukan warga Negara yang baik (good citizenship), maka perlu pengembangan kepada proses pembelajaran yang humanis dan dinamis (Sapriya,dkk, 2007:1). Untuk itu perlu berbagai strategi, pendekatan dan tekhnik untuk membangun sikap sosial dan berpikir kritis siswa.
Berbagai usaha telah dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan dan sekolah guna peningkatan kualitas guru dalam melaksanakan proses pembelajaran antara lain melalui pelatihan-pelatihan pembelajaran dan seminar-seminar. Dengan kegiatan ini diharapkan guru mampu meningkatkan hasil belajar siswa secara optimal. Namun, kenyataannya untuk pencapaian hasil belajar siswa, berdasarkan pengamatan awal yang dilakukan untuk mata pelajaran IPS di SD Negeri Z Kecamatan X Kabupaten Y masih tetap rendah. Nilai Ilmu Pengetahuan Siswa (IPS) para lulusan Sekolah Dasar tersebut lima tahun terakhir masih di bawah rata-rata. sebagaimana tabel berikut :

* Tabel sengaja tidak ditampilkan *

Berdasarkan tabel di atas dapat di lihat bahwa dalam mata pelajaran IPS, masih belum mencapai hasil belajar yang optimal seperti yang diharapkan.
Berbagai fenomena yang teramati antara lain mungkin disebabkan belum lengkapnya fasilitas pembelajaran yang ada, metode pembelajaran yang belum dapat mengembangkan keterampilan belajar siswa, gaya mengajar guru yang tidak bervariasi dan masih mempertahankan cara-cara yang lama yaitu guru sebagai subyek dan siswa sebagai obyek dengan pencapaian mated sebagai target akhir
Selain hal-hal di atas, permasalahan mendasar yang tak kalah pentingnya adalah proses pembelajaran IPS yang kurang memperhatikan lingkungan sosial dan kultural peserta didilk. Masyarakat Sumatera Barat atau yang lebih dikenal dengan etnis Minangkabau termasuk dalam kategori masyarakat yang aktif, kreatif dan dinamis. Pola didikan dan pola pengasuhan tersebut sudah berlaku secara turun-temurun dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Tuntutan akan hal demikian karena menurut adat Minangkabau, seseorang anak yang telah menanjak dewasa akan pergi migrasi ke daerah lain yang dikenal dengan tradisi "Merantau". Seorang anak Minangkabau dalam menuju proses pendewasaan diharuskan mencari pengalaman hidupnya melalui tradisi “Merantau'' agar anak diharapkan bisa hidup mandiri dan lepas dari ketergantungan kepada orang tua maupun keluarganya.
Ketika pembelajaran IPS di sekolah bersifat monoton dan pasif serta kurang memperhatikan pada aktivitas dan kreativitas anak sesuai dengan pola pengasuhan dan pola didikan anak di Minangkabau maka berdampak terhadap proses pembelajaran di sekolah. Pola pengasuhan yang diterima siswa di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitarnya yang menuntut mereka untuk mandiri dan berkarya bertolak belakang dengan proses pembelajaran IPS di sekolah yang monoton dan didominasi oleh guru. Proses pembelajaran yang pasif ini memberi dampak terhadap motivasi belajar siswa di sekolah.
Sementara itu permasalahan di pihak siswa adalah rendahnya motivasi belajar siswa mengikuti mata pelajaran IPS yang ditunjukkan oleh sikap dan tingkah laku mereka yang negatif pada saat proses pembelajaran berlangsung misalnya siswa pasif dalam mengikuti pelajaran dan sering keluar kelas saat pelajaran sedang berlangsung.
Rendahnya hasil belajar siswa juga disebabkan oleh faktor eksternal yang ditunjukkan oleh ketidaktepatan model pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran. Guru kurang memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran dalam menumbuhkan motivasi, minat, dan kreativitas siswa untuk belajar dan berusaha mengatasi kesulitannya. Proses pembelajaran seolah-olah telah berjalan dengan baik, karena materi yang telah digariskan dalam silabus telah disajikan sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan. Di satu sisi justru hal yang terjadi dapat mematikan gairah belajar siswa karena guru kurang kreatif, guru lebih mendominasi ketika menyampaikan materi pembelajaran dan cenderung mengabaikan kesiapan belajar siswa. Guru kurang memperhatikan setiap siswa yang memiliki keberagaman individual, baik latar belakang kemampuan/ pengetahuan, sikap, motivasi, dan sebagainya. Hal ini terungkap ketika guru memerintahkan siswa membentuk kelompok belajar untuk mendiskusikan mated. Hal ini juga diakui oleh kepala sekolah sewaktu penulis melakukan observasi awal yang menjelaskan bahwa rendahnya minat siswa untuk belajar IPS yang mungkin disebabkan oleh faktor eksternal dan internal di atas, termasuk disi adalah model pembelajaran yang masih sangat konvensional. (Agustiar, Kepala Sekolah SDN Z, wawancara waktu observasi)
Untuk mengubah dan meminimalisir fenomena yang ada dalam proses pembelajaran IPS di atas, perlu kiranya dicoba menerapkan model pembelajaran yang memungkinkan siswa termotivasi dan terlibat secara aktif dalam mengikuti proses pembelajaran. Oleh sebab itu, guru sepatutnya sudah membah paradigma tujuan pembelajaran di atas dari orientasi "hasil" kepada "proses" maka dalam dalam hal ini, guru dituntut kemampuannya untuk memilih dan memilah atau mendesain pembelajaran yang tidak membosankan bagi peserta didik. Hal tersebut diantaranya bisa dilakukan dengan cara memilih dan menentukan sumber, media serta pendekatan pembelajaran yang beralih dari paradigma tradisional ke paradigma moderen. Secara teoritis salah satu pendekatan yang dianggap termasuk inovatif adalah pendekatan pembelajaran berbasis portofolio. Model pembelajaran berbasis portofolio dipandang dapat membantu guru dalam meningkatkan proses pembelajaran mata pelajaran IPS SD.
Pada model pembelajaran berbasis portofolio mempakan karya terpilih dari seorang siswa, tetapi dapat juga bempa karya terpilih dan satu kelas secara keseluruhan atau kelompok siswa yang bekerja secara kooperatif membuat kebijakan untuk memecahkan masalah. Istilah "Karya terpilih" mempakan kata kunci dan portofolio. Maknanya adalah bahwa yang harus menjadi akumulasi dari segala sesuatu yang ditemukan para siswa dari topik mereka harus membuat bahan-bahan yang menggambarkan usaha terbaik siswa dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan kepadanya, serta mencakup pertimbangan terbaik tentang bahan-bahan mana yang paling penting. Oleh karena itu portofolio bukanlah kumpulan bahan yang asal ambil dari sana sini, tidak ada relevansinya satu sama lain, ataupun bahan yang tidak memperhatikan signifikansi sama sekali.
Kelebihan dari model pembelajaran berbasis portofolio ini menumt Ami Fajar (2005:45) yaitu: (1) Siswa berlatih memadukan antara prinsip dan konsep yang diperoleh dan penjelasan guru atau dari buku/bacaan dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, (2) Siswa mampu mencari informasi di luar kelas, baik informasi berasal dan bundel bacaan, penglihatan, objek langsung, TV/ radio (internet) maupun orang/pakar/tokoh, (3) Siswa dapat membuat alternatif pemecahan masalah terhadap topik yang dibahas, (4) Siswa mampu membuat keputusan (sesuai kemampuannya) yang berkaitan dengan konsep yang telah dipelajarinya dan (5) Siswa mampu memmuskan langkah yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah.
Pada dasarnya potofolio sebagai model pembelajaran yang akan di lakukan dalam penelitian mempakan suatu usaha yang dilakukan guru agar siswa memiliki kemampuan untuk mengungkapkan dan mengekspresikan dirinya sebagai individu maupun kelompok. Kemampuan tersebut diperoleh siswa melalui pengalaman belajar seperti mencari informasi, mengorganisir informasi, membuat laporan, menulis laporan yang dituangkan dalam pekerjaannya sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan siswa Sekolah Dasar.
Adapun langkah-langkah yang akan dilakukan dalam pembelajaan berbasis portofolio di Sekolah Dasar antara lain:
1. Mengidentifikasi masalah, yang meliputi: penugasan, kegiatan kelompok, diskusi dan tanya jawab.
2. Memilih masalah untuk kajian kelas, yang meliputi: masalah menarik, sesuai dengan kemampuan siswa sekolah dasar dan nyata dalam kehidupan masyarakat.
3. Mengurupulkan informasi yang meliputi sumber-sumber dari bahan pelajaran, surat kabar, kliping dan dari pemerintah (pemerintah desa atau camat) dan masyarakat.
4. Membuat portofolio kelas
5. Penyajian portofolio
6. Refleksi pada pengalaman belajar dengan mengambil kesimpulan dan penilaian.
Kesemua langkah-langkah di atas akan di sesuaikan dengan tingkat perkembangan dan kemampuan siswa-siswa Sekolah Dasar agar dalam pembelajaran siswa tetap dapat menikmati pembelajaran dengan enjoyfull dan bukan merasakan suatu beban yang berat. Bagaimanapun metode pembelajaran berbasis portofolio tetap berprinsip bagaimana membelajarkan anak untuk belajar dengan mandiri dan kreatif.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut pengaruh metode pembelajaran berbasis portofolio untuk proses pembelajaran mata pelajaran IPS SD, untuk melihat seberapa besar kontribusi metode pembelajaran berbasis portofolio terhadap motivasi dan prestasi belajar pelajaran IPS siswa.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh metode pembelajaran berbasis portofolio terhadap motivasi dan prestasi belajar IPS siswa sekolah dasar?
Rumusan masalah tersebut selanjutnya dijabarkan dalam pertanyaan-pertanyaan penelitian berikut.
1. Apakah terdapat peningkatan dalam motivasi belajar IPS antara siswa yang belajarnya memperoleh metode pembelajaran berbasis portofolio dengan siswa yang belajarnya memperoleh pembelajaran konvensional?
2. Apakah terdapat peningkatan dalam prestasi belajar IPS antara siswa yang belajarnya memperoleh metode pembelajaran berbasis portofolio dengan siswa yang belajarnya memperoleh pembelajaran konvensional?
3. Bagaimanakah deskripsi proses pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis portofolio dalam meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa?

C. Pembatasan Masalah
Agar permasalahan tidak meluas, penelitian dibatasi pada hal-hal berikut:
1. Penelitian ini hanya pada hasil belajar IPS pada aspek kognitif, tidak pada aspek afektif dan psikomotor.
2. Penelitian dilakukan di kelas VI sekolah dasar

D. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan motivasi belajar IPS siswa melalui Metode pembelajaran berbasis portofolio dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.
2. Untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan prestasi belajar IPS siswa melalui metode pembelajaran berbasis portofolio dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.
3. Untuk mendeskripsikan proses pembelajaran yang menerapkan metode pembelajaran berbasis portofolio dalam meningkatkan motivasi dan prestasi belajar IPS siswa.

E. Kegunaan Penelitian
a. Kegunaan Teoritis
Penelitian ini diharapakan dapat memberikan sumbangan pikiran dan titik tolak bagi penelitian lebih lanjut dan lebih spesifik tentang model pembelajaran berbasis portofolio terhadap motivasi dan prestasi belajar siswa pada pelajaran IPS di SD.
b. Kegunaan Praktis
Sedangkan kegunaan praktis dalam penelitian ini, diharapkan bermanfaat bagi berbagai pihak antara lain;
1. Bagi siswa dengan penerapan metode pembelajaran berbasis portofolio diharapkan dapat memperoleh pengalaman dan keterampilan yang
berharga sehingga dapat digunakan sebagai latihan untuk mempelajari IPS secara bersama-sama dengan teman sebaya.
2. Bagi guru yang ingin menerapkan metode pembelajaran berbasis portofolio dalam pembelajaran IPS di SD dapat digunakan sebagai salah satu contoh dalam menerapkan pembelajaran.
3. Bagi kepala sekolah dan Kepala Dinas Pendidikan diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dalam menentukan kebijakan tentang metode pembelajaran yang cocok untuk mata pelajaran IPS di berbagai jenjang pendidikan umumnya, dan Sekolah Dasar (SD) khususnya.
4. Bagi peneliti sejenis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu dasar dan masukan dalam mengembangkan penelitian model-model atau metode-metode pembelajaran konstruktif selanjutnya.

F. Variabel Penelitian dan Defenisi Operasional
1. Variabel penelitian
Penelitian ini adalah penelitian kuasi eksperimen yang terdiri dari tiga variabel yaitu satu variabel bebas dan dua variabel terikat. Variabel bebas adalah pembelajaran berbasis portofolio (X) dan variabel terikat yaitu motivasi belajar (Y1) dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS (Y2).
Analisis terhadap hubungan antara variabel bebas dan terikat ini akan diuji melalui uji statistik.
2. Definisi Operasional
Dalam penelitian ini terdapat beberapa istilah yang diinterpretasikan sebagai berikut.
a. Metode Pembelajaran Portofolio adalah metode pembelajaran dengan mengurupulkan kertas-kertas berharga dari suatu pekerjaan siswa dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut panduan-panduan yang ditentukan. Setiap portofolio memuat bahan-bahan yang menggambarkan usaha terbaik siswa dalam mengerjakan tugas-tugas terbaik yang diberikan kepadanya, serta mencakup pertimbangan terbaiknya tentang bahan-bahan mana yang paling penting untuk di tampilkan (Arnie Fajar, 2005: 47).
b. Motivasi belajar adalah dorongan semangat dalam belajar yang diperoleh siswa dalam mempelajari mata pelajaran IPS yang berasal dari dalam dan luar diri siswa setelah mendapatkan pembelajaran IPS dengan metode pembelajaran berbasis portofolio.
c. Prestasi pada penelitian ini ditunjukan oleh peningkatan kemampuan kognitif siswa pada pembelajaran IPS yang merupakan hasil dari proses penerapan metode pembelajaran berbasis portofolio dalam belajar IPS .
d. Pembelajaran Konvensional adalah metode ceramah yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran.

G. Asumsi dan Hipotesis
1. Asumsi
Penelitian ini didasarkan atas asumsi bahwa "Metode pembelajaran berbasis portofolio" mendorong siswa untuk belajar secara bersama dalam kelompok dan saling mendorong untuk berprestasi bersama.
2. Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Terdapat peningkatan dalam motivasi belajar IPS antara siswa yang belajarnya memperoleh metode pembelajaran berbasis portofolio dengan siswa yang belajarnya memperoleh pembelajaran konvensional.
2. Terdapat peningkatan dalam prestasi belajar IPS antara siswa yang belajarnya memperoleh metode pembelajaran berbasis portofolio dengan siswa yang belajarnya memperoleh pembelajaran konvensional.
READ MORE - TESIS PENGARUH METODE PEMBELAJARAN BERBASIS PORTOFOLIO TERHADAP MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR IPS