Makalah Biologi Tentang Sistem Reproduksi Vegetatif dan Generatif Tumbuhan

Judul : Makalah Biologi Sistem Reproduksi Vegetatif dan Generatif Tumbuhan


Daftar Isi :
A. Reproduksi Aseksual / Vegetatif, 1. Reproduksi aseksual alami, 2. Reproduksi aseksual buatan, B. Reproduksi Seksual / Generatif, 1. Penyerbukan pada tumbuhan biji terbuka (gymnospermae), 2. Penyerbukan pada tumbuhan biji tertutup (angiospermae), C. Penyerbukan, Macam-macam penyerbukan, D. Pemencaran Tumbuhan, 1. Pemencaran tumbuhan tanpa bantuan faktor luar, 2. Pemencaran tumbuhan dengan bantuan faktor luar, a. Anemokori, b. Hidrokori, c. Zookori, d. Antropokori, Daftar Pustaka.






Sekilas Isi :
A. Reproduksi Aseksual / Vegetatif
    Dibagi menjadi 2 :
     1. Reproduksi aseksual alami seperti :
         a) Pembentukan spora, dimulai dari pembelahan sel pada bagian tertentu dari tumbuhan.
              Contoh : lumut dan tumbuhan paku.


         b) Fragmentasi
             Reproduksi dengan fragmentasi berarti melepaskan sebagian dari tubuhnya untuk tumbuh menjadi individu baru.


         c) Pembentukan tunas
             pada dasarnya juga dimulai dari pembelahan sel pada bagian jaringan embrional atau meristematis, dll.


     2. Reproduksi aseksual buatan seperti :
         Menyetek, mencangkok dan merunduk yang merupakan cara pembiakan yang melibatkan satu individu tumbuhan. Sedangkan menyambung dan menempel melibatkan 2 individu tumbuhan.


B. Reproduksi Seksual / Generatif
       Proses reproduksi seksual memerlukan gamet jantan dan betina. Proses perkawinan tumbuhan berbiji diawali oleh proses penyerbukan dan dilanjutkan dengan proses pembuahan.
1. Penyerbukan pada tumbuhan biji terbuka (gymnospermae) 
    adalah menempelnya serbuk sari ke mikrofil (liang bakal biji). Dan terjadi pembuahan tunggal. Alat reproduksi gymnospermae berupa strobilus jantan dan strobilus betina.


     Proses penyerbukan pada gymnospermae umumnya dibantu oleh angin. Contoh tumbuhan berbiji terbuka ini antara lain :
Melinjo, pinus, damar, pakis haji dan cycas.
• Manfaat gymnospermae
a. Bahan makanan, misalnya : biji melinjo
b. Bahan industri kertas, misalnya : batang pinus dan batang melinjo
c. Bahan obat-obatan, misalnya juniper dan pinus
d. Bahan terpentin dan plister, misalnya : tusam/pinus
e. Bahan damar, misalnya : pohon damar


2. Penyerbukan pada tumbuhan biji tertutup (angiospermae)
     Adalah menempelnya serbuk sari ke kepala putik dan terjadi pembuahan ganda. Alat perkembangbiakan angiospermae adalah bunga. Bunga meliputi berdasarkan perhiasan bunga dan alat kelamin bunga.
a. Perhiasan bunga meliputi kelopak dan mahkota bunga.
b. Alat kelamin bunga (alat perkembangbiakan)


      Bagian sebelah dalam dari lingkaran perhiasan bunga adalah alat kelamin bunga. Bagian alat kelamin bunga terdiri dari benang sari sebagai alat pembiakan jantan dan putik sebagai alat pembiakan betina. Benang sari berada pada lingkaran sebelah luar dari putik.


Berdasarkan kelengkapan bagian bunga :
a. Bunga lengkap adalah bunga yang mempunyai kelopak, mahkota, benang sari dan putik.
Misal : bunga sepatu, cabai, kecubung, mawar, melati, dan jeruk.
b. Bunga tidak lengkap adalah bunga yang tidak mempunyai salah satu atau beberapa bagian bunga baik perhiasan maupun alat kelamin.
Berdasarkan kelengkapan alat kelamin :
a. Bunga sempurna
b. Bunga tidak sempurna




  • Untuk data Selengkapnya silahkan anda download filenya disini 

READ MORE - Makalah Biologi Tentang Sistem Reproduksi Vegetatif dan Generatif Tumbuhan

Makalah Biologi Tentang Ringkasan Biologi Biogeografi

Judul : makalah ringkasan biologi biogeografi


Daftar Isi :
HALAMAN JUDUL, KATA PENGANTAR, DAFTAR ISI, PENDAHULUAN, BAB I : FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSEBARAN ORGANISME, BAB II : PERSEBARAN HEWAN, A. Zoografi, B. Daerah Zoografi, BAB III : PERSEBARAN HEWAN DI INDONESIA, BAB IV : RADIASI ADAPTIF, BAB V : PERSEBARAN TUMBUHAN, A. Iklim, B. Ketinggian, C. Bioma, BAB VI : FLORA MALESIANA, DAFTAR PUSTAKA.






Sekilas Isi :
PENDAHULUAN
       Biogeografi adalah ilmu yang mempelajari tentang penyebaran organisme di muka bumi. Biogeografi terbagi atas :
  1. Zoografi (Biogeografi Hewan)

  2. Fitografi (Biogeografi Tumbuhan)

        Studi tentang penyebaran spesies menunjukkan bahwa spesies-spesies berasal dari satu tempat, namun selanjutnya menyebar ke berbagai daerah. Organisme tersebut mengadakan diferensiasi selanjutnya menjadi subspesies baru dan spesies yang cocok terhadap daerah yang ditempatinya.


       Salah satu dasar mempelajari biogeografi adalah bahwa setiap hewan dan tumbuhan muncul atau mengalami evolusi sekali saja pada masa lampau. Suatu tempat tertentu asal suatu jenis disebut pusat asal usul. Orang yang pertama kali mengemukakan adanya hubungan antara makhluk hidup dengan daerah / wilayah tertentu di permukaan bumi adalah Alfred Russel Wallace.


        Pada tahun 1800-an ia menerbitkan buku yang mengungkapkan adanya pola penyebaran makhluk hidup di bumi. Wallace membagi bumi menjadi 6 wilayah biogeografi karena masing-masing wilayah memiliki tumbuhan dan hewan yang khas dan unik.


       Setiap wilayah geografis tersebut memiliki rintangan berupa kondisi alam sebagai hasil dari penyatuan atau pemisahan benua pada masa silam. Akibat dari adanya rintangan tersebut, makhluk hidup terhalang dan tidak dapat melakukan penyebaran ke daerah di seberangnya.


A. Zoografi
      Wilayah persebaran hewan pertama kali diperkenalkan oleh Salater (1858) dan diperluas oleh Wallace (1876), Newbigin (1950), Beaufort (1951), dan Darlington (1957) yang menyusun dan menjelaskannya dengan cara yang lebih modern.


       Persebaran hewan terbatas pada daerah-daerah tertentu karena adanya berbagai barrier atau karena sejarah tempat asalnya pada zaman dahulu. Satuan tersbesar distribusi hewan disebut wilayah persebaran hewan. Wilayah persebaran hewan yang satu dengan lainnya dipisahkan oleh laut, gunung, padang pasir, dan iklim. Alfred Russel Wallace dalam ekspedisinya pada abad 18 menyimpulkan bahwa pada masa silam telah terbentuk pola penyebaran hewan dalam 6 kelompok daerah yang disebut zoografi dunia.


B. Daerah Zoografi
       Secara garis besar penyebaran hewan-hewan di 6 daerah zoografi adalah sebagai berikut :




  • Untuk data Selengkapnya silahkan anda download filenya disini 

READ MORE - Makalah Biologi Tentang Ringkasan Biologi Biogeografi

Makalah Biologi Tentang Proses Pembuatan Kompos

Judul : Proses Pembuatan Kompos


Isi :
Kata Pengantar, Daftar Isi, BAB I – Pendahuluan, Latar Belakang, Tujuan, Batasan Masalah, BAB II – Uraian Isi, Proses Pembuatan, Metodologi, Hasil Penelitian, Kerangka Penelitian, Pembahasan, BAB III – Penutup, Simpulan, Saran




  • Untuk data Selengkapnya silahkan anda download filenya disini 

READ MORE - Makalah Biologi Tentang Proses Pembuatan Kompos

Makalah Biologi Tentang Klasifikasi Kelompok Alga

Judul : Makalah Klasifikasi Kelompok Alga


Isi :
ALGA (PROTISTA MIRIP TUMBUHAN), 1. Klasifikasi Alga, 2. Reproduksi Alga, 3. Kelompok-Kelompok Alga, a. Alga Cokelat (Phaeophyta), b. Alga Merah (Rhodophyta), c. Alga Keemasan (Chrysophyta), d. Diatom (Bacillariophyta), e. Alga Hijau (Chlorophyta), Ciri-ciri dan Perbedaan Alga Cokelat, Merah, Keemasan, Hijau, dan Diatom.






Rangkuman :
      Alga biasanya berupa fitoplankton yang hidup melayang di dalam air. Akan tetapi ada pula alga yang hidup di dasar perairan. Ilmu yang mempelajari alga disebut fikologi.
1. Klasifikasi Alga
     Alga yang hidup melayang-layang di permukaan air disebut neuston, sedangkan yang hidup di dasar perairan disebut bersifat bentik. Alga yang bersifat bentik digolongkan menjadi :
a. epilitik (hidup di atas batu)
b. epipalik (melekat pada lumpur atau pasir)
c. epipitik (melekat pada tanaman)
d. epizoik (melekat pada hewan).


Berdasarkan habitatnva di perairan, alga dibedakan atas :
a. alga subaerial, yaitu alga yang hidup di daerah permukaan
b. alga intertidal, yaitu alga yang secara periodik muncul di permukaan karena naik turunnya air akibat pasang surut
c. alga sublitoral, yaitu alga yang hidup di bawah permukaan air
d. alga edafik, yaitu alga yang hidup di dalam tanah.


         Beberapa jenis alga dapat bersimbiosis dengan organisme lainnya. Misalnya, Chlorella sp. hidup bersama Paramecium, Hydra, atau Mollusca; alga Platymonas sp. hidup bersama cacing pipih Convoluta roscoffensis.


        Alga ada yang bersel tunggal (uniseluler), membentuk koloni berupa filamen (kumpulan sel berbentuk benang) atau koloni yang tidak membentuk filamen. Alga uniseluler ada yang dapat bergerak atas kekuatan sendiri (motil) dan ada yang tidak dapat bergerak (nonmotil). Alga uniseluler yang mikroskopis tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Sebaliknya, ada alga yang membentuk koloni berupa. filamen berukuran cukup besar sehingga dapat dilihat dengan mata telanjang. Sel yang terletak paling bawah pada filamen membentuk alat khusus untuk menempel pada batu, batang pohon, pasir, atau lumpur. Alat tersebut dinamakan pelekap. Koloni alga yang tidak membentuk filamen umumnya berbentuk bola atau pipih tanpa pelekap.


2. Reproduksi Alga
      Alga bereproduksi melalui dua cara yaitu seksual dan aseksual. Reproduksi secara aseksual terjadi melalui pembelahan sel, fragmentasi, dan pembentukan zoospora. Reproduksi secara seksual terjadi melalui isogami dan oogami.
a. Reproduksi Aseksual
     Reproduksi aseksual terjadi melalui pembelahan sel menghasilkan dua sel anak yang masing-masing akan menjadi individu baru. Reproduksi dengan cara pembelahan sel umumnya terjadi pada alga bersel tunggal. Alga berbentuk koloni tanpa filamen atau yang berbentuk filamen umumnya bereproduksi melalui fragmentasi. Fragmentasi adalah terpecah-pecahnya koloni menjadi beberapa bagian.


      Selain melalui pembelahan sel dan fragmentasi, alga juga dapat bereproduksi melalui pembentukan zoospora. Zoospora merupakan sel tunggal yang diselubungi oleh selaput dan dapat bergerak atau berenang bebas dengan menggunakan satu atau lebih flagela. Setiap zoospora merupakan calon individu baru.




  • Untuk data Selengkapnya silahkan anda download filenya disini 

READ MORE - Makalah Biologi Tentang Klasifikasi Kelompok Alga

Makalah Biologi TentangFarmakologi Antibiotik Makrolida

Judul : Makalah Farmakologi Antibiotik Makrolida


Daftar Isi :
KATA PENGANTAR, DAFTAR ISI, BAB I PENDAHULUAN, A. Latar Belakang, B. Tujuan, C. Perumusan Masalah, BAB II PEMBAHASAN, A. Farmakokinetik, B. Farmakodinamik, C. Efek Samping dan Reaksi yang Merugikan, D. Mekanisme Kerja, E. Farmakologi Klinis, F. Indikasi Penggunaan, G. Toksisitas dan Efek Samping, BAB III PENUTUP, A. Kesimpulan, B. Saran, DAFTAR PUSTAKA.




Sekilas Isi :
A. Farmakokinetik
     Preparat eritromisin oral diabsorbsi dengan baik melalui saluran gastrointestinal. Obat ini tersedia untuk pemberian intravena, tetapi harus diencerkan dalam 100 ml salin atau dextrosa 5% dalam larutan air untuk mencegah plebitis atau rasa terbakar pada tempat suntikan. Obat ini mempunyai waktu paruh yang singkat dan efek pengikatnya pada proteinnya sedang. Obat ini diekstresikan ke dalam empedu, feses dan sebagian kecil dalam urine. Karenanya jumlah yang diekskresikan ke dalam urine sedikit, maka insufisiensi ginjal bahkan merupakan kontra indikasi bagi pemakaian eritromisin.


B. Farmakodinamik
     Eritromisin menekan sintesis protein bakteri. Mulai terjadi preparat oral adalah 1 jam. Waktu untuk mencapai puncak adalah 4 jam dan lama kerjanya adalah 6 jam.


C. Efek Samping dan Reaksi Yang Merugikan
      Efek samping dan reaksi yang merugikan dari eritromisin adalah gangguan gastrointestinal, seperti mual dan muntah, diare dan kejang abdomen. Reaksi alergi terhadap eritromisin jarang terjadi. Heptotoksisitas (toksisitas hati) dapat terjadi jika obat dipakai bersama obat-obatan hepatotoksik lainnya seperti asetaminofen (dosis tinggi), fonotiazin dan sulfonamid. Eritromisin estolat (ilosone), nampaknya lebih mempunyai efek toksik pada liver dibandingkan dengan eritromisin lainnya. Kerusakan hati biasanya bersifat reversible jika obat dihentikan. Eritromisin tidak boleh dipakai bersama klindomisin atau linkomisin karena mereka bersaing untuk mendapatkan reseptor.


D. Mekanisme Kerja
      Eritromisin menghambat sintesis protein yang tergantung RNA. Pada sub unit ribosom 50 S menyekat reaksi-reaksi transpeptidasi dan translokasi. Terdapat bukti yang menggambarkan bahwa eritromisin dapat paling sedikit sebagian menempati suatu tempat pengikatan bersama-sama dengan klindamisin.
  1. Spektrum aktivitas utama eritromisin melawan organisme-organisme gram positif meskipun beberapa jenis bakteri gram negatif mungkin rentan juga. Treponema, mycoplasma, chlamydia dan ricketsia dapat rentan.

  2. Obat ini terutama bersifat bacteriostatik tetapi pada konsentrasi lebih tinggi dan terutama terhadap bakteri gram positif dapat bersifat bakteriosid.

  3. Ia basa lemah dan secara bermakna lebih aktif pada pH alkali daripada pada pH netral atau asam.

  4. Resistensi terhadap eritromisin dapat terjadi oleh mekanisme berikut ini :

          a. Ketidakmampuan antibiotika untuk menembus mikroba.
          b. Perubahan tempat reseptor pada ribosom 50 S.
          c. Metilasi adenin.




  • Untuk data Selengkapnya silahkan anda download filenya disini 

READ MORE - Makalah Biologi TentangFarmakologi Antibiotik Makrolida

Makalah Biologi Tentang Animalia Echinodermata

Judul : Makalah Biologi Animalia Echinodermata


Daftar Isi :
ECHINODERMATA, Ciri-ciri Umum Echinodermata, Cara Berkembang Biak, 1. Asteroidea, 2. Ophiuroidea, 3. Echinoidea, 4. Crinoidea, 5. Holothuroidea, PERANAN ECHINODERMATA, a. Peranan Echinodermata yang Menguntungkan, b. Echinodermata yang Merugikan.






Sekilas Isi :
ECHINODERMATA
Ciri-ciri Umum Echinodermata
       Echinodermata memiliki lempeng-lempeng dari zat kapur dengan duri-duri kecil sehingga hewan ini disebut hewan berkulit duri.


       Ciri khas dari Echinodermata ialah sistem pembuluh air, yaitu suatu jaringan saluran hidrolik yang bercabang menjadi penjuluran dan disebut kaki tabung (kaki ambulakral). Kaki tabung atau kaki ambulakral berfungsi untuk lokomosi, makan, dan pertukaran gas.


Cara Berkembang Biak
       Reproduksi seksual pada anggota filum ini umumnya melibatkan hewan jantan dan betina yang terpisah (dioecious) dan pembebasan gamet dilakukan di air. Hewan dewasa yang radial berkembang dari larva bilateral melalui proses metamorfosis.


        Filum Echinodermata umumnya terbagi menjadi 5 kelas, antara lain asteroidea (bintang laut), ophiuroidea (bintang mengular), echinoidea (bulu babi dan dolar pasir), crinoidea (lili laut dan bintang berbulu), serta holothuroidea (timun laut atau teripang).


1.  Asteroidea
     Bintang laut umumnya memiliki lima lengan, tetapi kadang-kadang lebih yang memanjang dari suatu cakram pusat. Permukaan bagian bawah lengan itu memiliki kaki tabung yang dapat bertindak seperti cakram untuk menyedot. Bintang laut mengkoordinasi kaki tabung tersebut untuk melekat di batuan dan merangkak secara perlahan-lahan sementara kaki tabung tersebut memanjang, mencengkeram, berkontraksi, melemas, memajang, kemudian mencengkeram lagi. Bintang laut menggunakan kaki tabungnya untuk menjerat mangsanya seperti remis dan tiram.


2. Ophiuroidea
     Bintang mengular memiliki cakram tengah yang jelas terlihat dari tangannya panjang sehingga memudahkannya bergerak. Kaki tabung (kaki ambulakral) tidak memiliki alat isap dan bintang mengular bergerak dengan mencambukkan lengannya. Beberapa spesies ophiuroidea merupakan hewan pemakan suspensi, dan yang lain adalah predator atau pemakan bangkai.


3. Echinoidea
     Bulu babi (sea urchin) dan dolar pasir (sand dollar) tidak memiliki lengan, tetapi hewan dari kelas ini memiliki lima baris kaki ambulakral yang berfungsi untuk bergerak walaupun lambat. Bulu babi juga memiliki otot untuk memutar durinya yang panjang sehingga bulu babi dapat bergerak. Secara kasar, bulu babi berbentuk agak bulat, dan dolar pasir berbentuk seperti cakram dan pipih.


4. Crinoidea
     Lili laut menempel ke substratum melalui sebuah batang. Lili laut merangkak dengan menggunakan lengannya yang panjang dan fleksibel. Sebagai suatu kelompok, anggota kelas crinoidea umumnya menggunakan lengannya yang berbulu untuk membantu proses memakan suspensi. Lengan itu terdapat di sekeliling mulut, tetapi mengarah ke atas sehingga menjauhi substratum. Crinoidea merupakan suatu kelas purba dari filum Echinodermata yang tidak berubah selama evolusinya.




  • Untuk data Selengkapnya silahkan anda download filenya disini 

READ MORE - Makalah Biologi Tentang Animalia Echinodermata

Pembuatan Ragi Tape



PEMBUATAN RAGI TAPE




Ragi tape atau yang sering disebut sebagai “ragi” adalah starter  untuk membuat tape  ketan  atau  tape  singkong.  Di  dalam  ragi  ini  terdapat  mikroorganisme  yang dapat  mengubah  karbohidrat  (pati)  menjadi  gula  sederhana  (glukosa)  yang selanjutnya  diubah  lagi  menjadi  alkohol.  Bberapa  jenis  mikroorganisme  yang terdapat  dalam  ragi  adalah  Chlamydomucor  oryzae,  Rhizopus  oryzae,  M ucor  sp., Candida sp., Saccharomyces cerevicae, Saccharomyces verdomanii, dan lain-lain.
Pada  dasarnya  pembuatan  ragi  merupakan  teknik  dalam  memperbanyak  mikroorganisme  yangberperan  dalam  pembuatan  tape.  Perbanyakan  ini  dilakukan dalam  suatu  medium  tertentu  dan  setelah  cukup  banyak  mikroba  yang  tumbuh, pertumbuhannya dihentikan serta dibuat dalam keadaan istirahat, baik dalam bentuk sel  maupun  dalam  bentuk  sporanya.  Penghentian  pertumbuahn  mikroba  tersebut dilakukan dengan cara mengeringkan medium tumbuhnya.


A.            ALAT DAN BAHAN
1.             ALAT
a.             Alat penumbuk atau gilingan
b.             Ayakan tepung
c.             Waskom atau panci untuk mebuat adonan
d.             Tampah bambu
e.             Sapu merang
f.               Daun pisang atau lembaran plastik


2.             BAHAN
a.             Beras ketan putih 1,5 kg
b.             Merica 50 gram
c.             Cabe untuk jamu 50 gram
d.             Bawang putih 50 gram
e.             Lengkuas (laos) 7,5 gram
f.               Air perasa tebu
g.             Ragi yang telah jadi.


B.            CARA KERJA
1.             Tumbuklah merica dan cabe hingga halus, kemudian disaring.
2.             Tambahkan bawang putih dan lengkuas, dan tumbuk lagi hingga halus merata.
3.             Buatlah  tepung  beras  ketan  putih.  Tepung  beras  putih  dapat  digunakan  dari tepung yang sudah jadi.
4.             Campurkan bumbu yang  telah dihaluskan tadi  dengan tepung beras  ketan  putih dan aduk hingga merata.
5.             Sambil  diaduk-aduk,  tambahkan  air  perasan  tebu  sedikit-sedikit  hingga  bahan menjadi adonan yang mudah dibentuk, tetapi tidak terlalu basah.
6.             Bentuklah adonan menajdi bulatan pipih dengan diameter sekitar 3 cm.
7.             Letakan adonan yang telah dibentuk tadi di atas tampah bambu yang telah diberi alas  dengan  sapu  merang,  kemudian  taburkan  di  bagian  atas  adonan  tersebut serbuk ragi dan tutup dengan daun pisang atau plastik.
8.             Simpanlah  adonan  yang  telah  ditaburi  ser buk  ragi  pada  tempat  yang  aman selama sekitar 24 jam hingga mikroorganisme tumbuh dan berkembang biak.
9.             Keringkan  adonan  yang  telah  ditumbuhi  mikroorganisme  dengan  cara menjemurnya di bawah ter ik matahari selama 2-5 hari. Adonan yang telah kering merupakan ragi yang siap untuk digunakan.
10.         Simpanlah  ragi  yang  telah  diperoleh  pada  tempat  yang  kering.  Ragi  dapat digunakan setiap kali diperlukan.








PEMBUATAN TAPE KETAN




Tape merupakan  makanan tradisional yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia.  Proses  pembuatan  tape  melibatkanproses  fer mentasi  yang  dilakukan oleh jamur  Saccharomyces  cerevicae.  Jamur  ini  memiliki  kemampuan  dalam mengubah karbohidrat  (fruktosa  dan  glukosa)  menjadi  alkohol  dan karbondioksida.  Selain Saccharomyces  cerevicae,  dalam  proses  pembuatan  tape  ini  terlibat  pula mikroorganisme  lainnya,  yaitu  Mucor  chlamidosporus  dan  Endomycopsis  fibuligera. Kedua  mikroorganisme  ini  turut  membantu  dalam  mengubah  pati  menjadi  gula sederhana (glukosa).


A.            ALAT DAN BAHAN
1.             ALAT
a.             Panci berlubang atau bakul nasi
b.             Panci atau waskom email
c.             Dandang
d.             Tampah
e.             Cukil kayu
f.               Kipas


2.             BAHAN
a.             Beras ketan hitam atau ketan putih
b.             Ragi tape
c.             Daun pisang, atau kantung plastik, atau keler.




B.            CARA KERJA
1.             Cuci bersih semua peralatan yang akan digunakan, kemudian ditiriskan.
2.             Bersihkan  beras  ketan  yang  akan  digunakan  dari  abhan-bahan  lain  yang tercampur, seperti pasir, gabah atau kotoran lainnya.
3.             Cucilah beras ketan dengan air bersih, kemudian ditiriskan.
4.             Rendamlah beras ketan yang telah dicuci tersebut dalam air dingin selama 12-18 jam.
5.             Setelah 12-18 jam dalam rendaman, angkat beras ketan tersebut kemudian bilas beberapa kali hingga merata.
6.             Tiriskan beras ketan yang telah dibilas, kemudian kukus hingga matang.
7.             Angkat  beras  ketan  yang  telah  matang  dan  letakan  dalam  tampah  yang  telah disediakan, kemudian dinginkan dengan cara mengipasinya.
8.             Setelah  dingin,  campurkan  ragi  yang  telah  dihaluskan  dan  aduklah  hingga merata.
9.             Bungkuslah ketan yang telah dicampur ragi dengan daun pisang atau masukkan ke dalam kantong plastik atau keler yang bersih.
10.         Simpan di tempat yang aman selama 3-4 hari.


Catatan:


1.             Banyaknya  ragi  yang  digunakan  disesuaikan  dengan  jumlah  beras  ketannya.
2.             Jumlah  ragi  yang  terlalu  banyak  akan  mempercepat  proses  fer mentasi  dan menyebabkan  tape  yang  terbentuk  terasa  pengar,  sedangkan  jumlah  ragi  yang  terlalu  sedikit  dapat  menyebabkan  tape  yang  terbentuk  tidak  manis  dan  terasa keras.
3.             Takaran r agi yang tepat hingga menghasilkan tape yang baik biasanay diperoleh beradasrkan pengalaman.
4.             Kualitas  tape yang  baik ditentukan pula oleh jenis ragi yang digunakan dan  asal ragi tersebut.




ANEKA KREASI MAKANAN DARI TAPE





 






PERTANYAAN:
1.  Apa fungsi merica, cabe, lengkuas, dan bawang putih dalam pembuatan ragi?
2.  Mengapa adonan yang telah ditumbuhi mikroorganisme harus dikeringkan?
3.  Bisakah mikroorganisme yang diharapkan diperoleh dari udara bebas?


DAFTAR PUSTAKA


Adi  rahmat, 1994,  Bioteknologi Bahan  Bakar  (Biotenologi  Energi), Jurusan  Pendidikan
Biologi FPMIPA IKIP Bandung.


Djumali Manguneidjaja dan Ani Suryani, 1994, Teknologi Bioproses, Penebar Swadaya,
Jakarta.


Elan Suherlan, 1994,  Bioteknologi Bahan Pangan, Jurusan  Pendidikan Biologi FPMIPA
IKIP Bandung.


-----------------, Adi Rahmat dan Amprasto, 1995, Pembuatan M inyak  Secara Fermentasi
Dengan  Menggunakan Jamur Ragi, Fakultas Pendidikan  Matematika dan  Ilmu
Pengetahuan Alam IKIP Bandung.


-----------------,  Ammi  Syiulasmi,  BR  Simangunsongm  Toeti  S.  Pudjiharto,  dan  Soesy
Asyiah,  1994,  Peningkatan  Keter ampilan  Penerapan  Pengetahuan  Biologi
Dalam  kehidupan  Sehari-hari  Bagi  Guru-guru  SD  di  Kecamatan  Batujajar
Kabupaten  Bandung,  Laporan  Kegiatan  Pengabdian  Kepada  Masyarakat,
Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat IKIP Bandung.


F.G. Winarno, dkk., 1980, Pengantar Teknologi Pangan, Gramedia, jakarta


Hartman, T.H., and D.E Kester, 1968,  Plant Propagation, Prentice  hall  Inc.,  Englewood
Cleffs, New Jersey.


Hendro  Sunar yono,  1984,  Pengantar  Pengetahuan  Dasar  Hortikultura,  Penerbit  Sinar
Baru, Bandung.


Hieronymus B. Santoso, 1995, Menjernihkan Air Dengan  Biji Kelor,  Nova, No. 376/VIII,
hal. XXII.


Lembaga Fisika Nasional, LIPI, Brosur Pembuatan Minyak Kelapa Dengan Ragi Roti.
Olsen,  H.S., 1988, Aqueous  Enzymatic  Extraction Of Oil From  Seed,  In:  Food Science
And  Technology  In  Industrial  Development,  S.  Maneepun  et  al  (ed.),  Vol  I,
bangkok, p.30-37.






Pusat  Pendidikan  dan  Latihan  Pertanian,  badan  Pendidikan,  Latihan  dan  Penyuluhan
Pertanian,  1975,  Lembaran  Petunjuk  Latihan  Teknologi  Makanan,  Pendidikan
Guru Pertanian, PGP-Kejuruan Teknologi Makanan, Yogyakarta.


Slesser, M. and C.  Lewis, 1979,  Biological Ener gy  Resources,  London, E  & F N. Spon
Ltd., A Halsted Press Book, John Wiley & Sons, New York.


Stainier, R. Y., M.  Doudorroff, and E. A. Adelberg,  1970, The Microbial World, Prentice
Hal of Japan Inc., Tokyo.


Sub  Balittan  Pasar  Minggu,  1983,  mempertahankan  Kesegaran  Buah- buahan  dan
Sauran, Balai Penelitian Hortikultura Lembang, bandung








READ MORE - Pembuatan Ragi Tape

Makalah Biologi Tentang Masker Alami Yang Terbuat Dari Mentimun



KATA PENGANTAR




Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas segala limpahan rahmat dan hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Masker Alami Yang Terbuat Dari Mentimun”.
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas biologi yang diberikan oleh guru mata pelajaran di sekolah. Selain itu juga untuk menambah pengetahuan tentang pemanfaatannya.
Dalam pembuatan makalah ini kami mendapat bantuan dari berbagai pihak baik moral maupun material, maka pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi – tingginya kepada :
1.             Kepala sekolah SMAN I Bayah yang telah memberikan izin kepada kami untuk melakukan praktek.
2.             Para pembimbing yang telah memberikan bimbingan kepada kami dalam pembuatan makalh ini.
3.             Wali kelas XII IPA 3 yang telah memberikan semangat kepada kami
4.             Dewan guru yang telah memberikan ilmu
5.             Orang tua dirumah yang telah membiayai untuk membuat makalah
6.             Rekan – rekan XII IPA 3 yang tidak bisa disebutkan satu persatu


kami menyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan baik di lihat dari isi atau cara penyajiannya. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk menyempurnakan makalah ini.
Mudah – mudahan makalah ini bermanfaat, khusunya bagi kami umumnya bagi pembaca.


Bayah, Februari 2009




Penulis



DAFTAR ISI


hal
KATA PENGANTAR....................................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................................... ii
A.            PENDAHULUAN ................................................................................................. 1
1.             Latar Belakang ........................................................................................... 1
2.             Tujuan Penulisan ........................................................................................ 1
B.            ISI ........................................................................................................................... 2
1.             Alat Dan Bahan .......................................................................................... 2
2.             Cara Pembuatan ........................................................................................ 2
3.             Manfaat ........................................................................................................ 2
C.           PENUTUP ............................................................................................................ 3
1.             Kesimpulan ................................................................................................. 3
2.             Saran ........................................................................................................... 3



BAB I
PENDAHULUAN


A.            Latar Belakang
Akhir – akhir ini sudah banyak sekali obat – obatan produks luar maupun dalam negeri masuk kedaerah kita yang tanpa kita sadari di dalamnya mengandung bahan – bahan kimia dan zat yang membahayakan tubuh kita bahan pengawet dan sebagainya yang sebenarnya dapat menimbulkan dampak yang sangat berbahaya untuk kesehatan kita seperti keracunan, gatal – gatal, efek samping dan bahan kanker. Berdasarkan hal tersebut kami mengadakan praktik membuat racikan untuk menghilangkan flek hitam pada muka atau menghaluskan kulit yang terbuat dari bahan – bahan alami yang tanpa harus kita ragukan akan ada dampak atau efek sampingnya.


B.           Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan ini adalah :
1.             Memenuhi salah satu tugas biologi yang diberikan oleh guru mata pelajaran
2.             Praktik membuat





BAB II
ISI


A.            Alat Dan Bahan
1.             Alat
-                Pisau
-                Sendok
-                Piring/Wadah
2.             Bahan
-                Mentimun Secukupnya


B.           Cara Pembuatan
1.             Sediakan alat dan bahan
2.             Cuci timun yang telah disediakan
3.             Potong menjadi dua bagian
4.             Setelah dipotong diserut pake sendok
5.             Masukan ke dalam piring/wadah yang telah disediakan, setelah tersaji, kemudian oleskan pada wajah
6.             Kemudian diamkan selama tiga menit
7.             Kemudian lepas dan rasakan manfaatnya


C.           Manfaat
Manfaat yang di pavel dari praktek ini adalah kita dapat merasakan khasiatnya dari hasil penelitian tersebut yang tidak mengandung bahan – bahan kimia melainkan menggunakan bahan alami yang tidak langka dan kehidupan sehari – hari terhindar dari wajah yang kusam juga dapat digunakan sebagai bahan makanan.



BAB III
PENUTUP


A.            Kesimpulan
Dengan menggunakan masker yang alami seperti bengkuang, mentimun dan lain – lain. Contohnya kita ambil dari mentimun yang sangat alami dan tidak ada bahan / zat –zat kimia di dalamnya.
B.           Saran
Masker yang terbuat dari bahan alami baik untuk kulit yang sensitif. Oleh karena itu, marilah kita menggunakan bahan – bahan kosmetik yang alami dan tidak mengandung bahan – bahan kimia.
Cintailah wajah kita seperti kita mencintai seseorang.


READ MORE - Makalah Biologi Tentang Masker Alami Yang Terbuat Dari Mentimun