Kritik Cerpen Hikayat Siti Rahima Yang Diambil Dari Antologi Cerpen Zen Hae "Rumah Kawin"

Mencari Kritik yang Tepat Untuk Cerpen Hikayat Siti Rahima yang Diambil Dari Antologi Cerpen Zen Hae “Rumah Kawin”

Zen Hae (Nur Zain Hae) lahir di kembangan, Jakarta Barat, 12 April 1970. anak betawi ini lulus dari jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta) pada 1994. Aktif menulis puisi, cerpen, dan tinjauan sastra. Sejumlah puisinya sempat menjadi juara dan nominator lomba cipta puisi di beberapa kota di Indonesia. Pernah bekerja, sebagai wartawan dan bergiat di LSM. Kini sepenuhnya penulis lepas. Rumah kawin ini adalah buku ceritanya yang pertama. “ Zen Hae termasuk pengarang yang berhasil mendayagunakan kependekan : cerita pendek bukan lagi ringkasan dari risilah panjang, tetapi mikrokosmos di mana kita bisa bermain tangkap-dan-lari dengan tokoh. Pengarang bukan lagi tukang khotbah, tetapi benar-benar menjelma narator. Disitulah watak sadar diri maupun efek penjarakan membuat pembaca sebagai “pencipta kedua” yang ikut memperkaya atau melengkapkan kisah (Nirwan Dewanto).

Berikut Pemaparan Mengenai Unsur Instrinsik yang Terdapat Pada Cerpen “ Hikayat Siti Rahima” Karya Zen Hae

1. Sinopsis Cerpen

Seorang gadis yang sedang berputus asa, karena ia tidak lagi suci. Siti Rahima nama gadis itu mengandung benih dari seorang pria yang bekerja sebagai kontraktor jalan. Akhirnya Siti Rahima diusir oleh keluarganya, karena telah mencoreng nama baik keluarga dan masyarakat kampungnya. Dengan keputus asaan Siti Rahima berjalan mencari lelakinya itu. Tiba di sebuah tempat, di bawah sebuah pohon besar. Pohon asam, Siti Rahima duduk untuk sekedar beristirahat. Keesokan harinya, warga kampung menemukan Siti Rahima tanpa nyawa. Siti Rahima mati, masuk dan tumbuhnya menyatu ke dalam Pohon Asam

2. Tema Cerpen

Menurut Brook dan Waren dalam Guntur (93:125) menyatakan tema adalah unsur atau makna suatu cerita atau novel. Sedangkan disatu sisi yang berbeda Brooks, Waren, dan Purser menyatakan tama adalah pandangan hidup yang tertentu atau perasaan tertentu mengenai kehidupan atau rangkaian nilai-nilai tertentu yang membentuk atau membangun dasar atau gagasan utama dari suatu bentuk karya tulis. Tema merupakan gagasan pokok yang terdapat adalm sebuah wacana. Tema yang bisa diangkat dari Hikayat Siti Rahima adalah : “ Perjuangan seorang gadis dalam mempertahankan kisah hidupnya di dunia fana”.

3. Setting Cerpen

sendiri adalah waktu, tempat, atau suasana yang terjadi dalam cerita. Setting kadangkala diangkat tidak jauh dari latar belakang penulis sebuah karya sastra, maksudnya sebagian besar setting dari sebuah karya sastra merupakan tempat dari pengalaman penulis yang sangat berkesan. Dalam Cerpen Hikayat Siti Rahima berlatar belakang setting di sebuah kampung dipinggiran kota yang berbatasan langsung dengan Ibukota Negara Jakarta,

“ Dulu aku manusia juga. Seorang perempuan. Tetapi, itu duli, sudah lama sekali. Jauh sebelum jalan lingkar luar ini dibangun oleh konsorsium kontraktor Jepang-Indonesia. Ketika sewah dan kebun sayur membujur, ke utara dan timur laut, mengikuti alaur sungai Kali Angke. Di sebelah timurnya, setelah hamparan sawah dan kebun sayur, rumah-rumah orang kampungku…”

4. Tokoh-Tokoh Cerpen

Tokoh menempatkan urutan pertama dari setiap karya sastra. Tanpa adanya tokoh sebuah karya sastra tidak akan hidup.

Tokoh merupakan orang-orang yang diceritakan dalam sebuah karya sastra. Setiap tokoh dalam novel memiliki karakter yang berbeda-beda. Penggambaran watak tokoh dalam novel sangat detail, sehingga pembaca bisa memilai ,masing-masing tokoh tersebut. (Bahasa Indonesia, Tim Pengembangan Kurikulum ; 10). tokoh-tokoh yang terdapat dalam cerpen Hikayat Siti Rahima yaitu :

· Siti Rahima

Seorang wanita yang terlahir dari keluarga sederhana. Kembang kampung yang baru merasakan jatuh cinta kepada seorang konsorsium kontrkator jalan. Wanita tegar, yang lagi berputus asa dalam pencarian sang lelaki pujaan hati yang pergi entah ke mana. Wanita yang penuh gairah dan agresif. Wanita yang selal lapang dada menerima perlakuan dan takdir dari sang Kuasa.

· Pria yang menjadi pacar Rahima ( seorang Konsorsium Kontrkator Jalan)

Pria pekerja keras, pria yang tidak bertanggung jawab. Pria yang meninggalkan Siti Rahima setelah ia meraih hati dan tubuh gadis itu, sampai sang gadis mengandung benih cinta mereka.

· Ayah

Pria yang tegas, berwibawa, taat pada ajaran agamanya. Pria yang mengusir anaknya gadisnya karena telah mencoreng nama baik keluarga.

· Ibu

Seorang wanita yang lembut, lemah, wanita yang sangat taat pada suaminya. Dia tidak bisa menetang ayah, ketika beliau mengusir Rahima dari rumah.

· Orang-orang kampung

Orang-orang yang kurang mengecam pendidikan. Masih menganut sistem yang sangat tradisional. Masih percaya kepada yang namanya dukun dan percaya kepada mitos. Orang-orang kampung yang tidak bisa mengusir para konsorsium kontraktor yang telah merusak alam kampung mereka.

5. Alur yang Digunakan Dalam Cerpen

Alur adalah struktur yang terdapat dalam fiksi atau drama (Brook dalam Guntur 1995:126). Artinya sebuah karya novel bergerak maju dari suatu permulaan (beginning), melalaui suatu pertengahan (middle), dan akhirnya menuju kesuatu akhir cerita (ending).alur dalam cerpen Hikayat Siti Rahima Yaitu alur maju. Dan diakhiri dengan pencarian tempat kehidupan oleh Rahima, agar dia dia bisa diterima di surga atau neraka.

6. Gaya Bahasa yang dipakai dalam Cerpen

Sebuah gaya bahasa yang baik haruslah mengandung tiga unsur seperti berikut ini; Kejujuran, yaitu mengikuti aturan-aturan, kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa. Sopan santun, yaitu memberi penghargaan atau menghormati orang yang di ajak bicara, khususnya pendengar atau pembaca. Dan Menarik, yaitu gaya bahasa dikatakan menarik apabila bervariasi, memiliki humor yang sehat, pengertian yang baik, penuh dengan tenaga hidup (vitalitas), dan penuh daya khayal (imajinasi). Gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa, style atau gaya bahasa dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Gaya bahasa yang dipakai dalam cerpen Hikayat Siti Rahima adalah :

Ø Anastrof/inverse adalah semacam gaya retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat.

“ Esok paginya orang-orang kampung ,menemukan tubuhku tergeletak kaku, dengan lidah yang terjulur di dalam gerowong pohon asam. Rahima bunuh diri, kata orang. Dibunuh orang, kata yang lain. Pendek kata, aku sudah mati. Tetapi arwahku tidak pergi dari pohon ini…”

Ø Asidenton Adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan dari pasidenton. Beberapa kata, frasa atau klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain dengan kata-kata sambung.

“ Pejamkan matamu, Tong. Matahari akan hilang. Hujan pertama akan datang. Tubuhku akan dingin, menggil, meliuk. Lidah-lidah air yang menjilati tubuhku, tanah dan pepohonan, adalah lidah para lelaki yang kehausan…”

Ø Hiperbol, semacam gaya bahasa yang mengadung suatu pernyataan yang berlebihan dengan membesar-besarkan sesuatu hal.

“ namun, lelaki itu tidak hanya mengukur, mengeker, dan mencatat. Ia memindai percik api dimataku. Dam aku merasakan debur ombak di dadanya. Lalu sapaan, rayuan gombal. Ahai… jilatan lidah ombak pada pasir panas. Tubuh-tubuh bergetar. Menggelinjang. Desah panjang. Percik darah….”

7. Amanat yang Terdapat Dalam Cerpen

Amanat yang disampaikan melalui cerpen Hikayat Siti Rahima adalah bahwa kita manusia jangan terlalu mengutamakan kehidupan dunia saja, apalagi yang bisa menjerumuskan kita kedalam dunia penuh dosam seperti free sexs. Kita harus menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Jangan mudah berputus asa, apaun masalah yang lagi kita hadapi. Sebab Tuhan tidak akan memberikan sebuah cobaan melebihi kemampuan umatnya. Yang paling penting kita tetap menjaga sopan sntun kita kepada kedua orang tua dengan menghormati mereka.

8. Kritik yang Cocok Untuk Cerpen Hikayat Siti Rahima


Kritik adalah pengamatan yang teliti, perbandingan yang tepat serta pertimbangan yang adil terhadap baik buruknya kualitas, nilai keberadaan sesuatu. Sedangkan kritik sastra ialah pengamatan yang teliti, perbandingan yang tepat serta pertimbangan yang adil terhadap karya sastra (Tarigan 1993 : 188). Jadi secara sederhana, kritik sastra dapat diartikan sebagai penilaian terhadap mutu karya sastra berdasarkan kriteria dan pendekatan tertentu. Untuk dapat menetukan apakah suatu karya sastra itu mutunya baik atau buruk, seorang penilai tentu harus membaca karya itu terlebih dahulu. Pada cerpen ini Kritik yang dapat diangkat yaitu, kritik mitopoik ini adalah kritik yang paling baru dan yang paling ambisius dianta pendekatan-pendekatan kritik konterporer yang barang kali juga yang paling profokatif dalam tindakan-tindakan dan kemungkinannya. Kritikus mitopoik pun mendapatkan fakta-fakta yang dikumpulkan dari hasil riset histories dan kuantitatifnya dalam mitos, menjadi petunjuk jalan yang telah hampir hilang dalam perjalan kritik ke dalam sastra. Cerpen Hikayat Siti Rahima mengangkat kritik tentang mitopoik, di dalam novel ini Zen Hae menceritakan tentang penduduk kampung yang masih memegang erat tentang mitos dalam kehidupan. “Akhirnya mereka panggil seorang lelaki tua bermisai panjang dan bermata picak. Di hari yang ditentukan, sang dukun membakar dupa dan membaca mantra di depan gerowong tubuhku. “ dut serudut ular kadut. Yang nyangkut ngoyor kelaut. Aer manek aer sagu. Setan Rahima jangan ngeganggu. Puh!” aku tertawa mendengarnya. Begitu kental mitos yang ada di kampung itu sehingga pohon itu dijadikan tempat sacral pemujaan.
READ MORE - Kritik Cerpen Hikayat Siti Rahima Yang Diambil Dari Antologi Cerpen Zen Hae "Rumah Kawin"

Pramudya Ananta Toer di New York.

Pramudya Ananta Toer di New York. Bagaimana kita pernah membayangkan ini? Di tengah Park Avenue tulip bermunculan kembali-tiap tahun seperti tak disangka-sangka-dengan rapi, seakan kembang plastik. Ini akhir April. Di dalam Gedung Asia Society di tepi avenue itu, di auditoriumnya yang penuh sesak, orang memandang ke pentas: Pramudya Ananta Toer di New York. Sesuatu yang lebih tak terduga. Orang sadar bahwa di panggung yang tertata itu, ada sesuatu yang datang dari sebuah pengalaman yang suram.

Pram mengenakan jas Nehru abu-abu, rambutnya yang memutih dan gondrong tersibak ke belakang. Dalam umurnya yang lebih dari 70 tahun, ia tampak kuat, langsing, tegak. Suaranya besar dan mantap, dengan getar di sana-sini. John MacGlynn, penerjemahnya, duduk di dekatnya, dekat sekali ke telinga Pramudya yang pekak, untuk setiap kali menyalin percakapan ke dalam bahasa Inggris atau sebaliknya. Di sebelah kiri Pramudya, Mary Zurbuchen, mengajukan beberapa pertanyaan dalam sebuah interview yang menarik, sebelum Pramudya menghadapi hadirin.

Pernahkah kita membayangkan ini? Mungkin kita akan mengatakan, sejarah memang sebuah proses dari keadaan terbelenggu ke arah keadaan merdeka-dan riwayat hidup Pramudya Ananta Toer melukiskan itu. Di zaman perang kemerdekaan ia ditangkap dan dipenjarakan Belanda, karena ia anggota dari pasukan Republik. Di zaman “Demokrasi Terpimpin” Soekarno ia dipenjarakan tentara, karena bukunya Hoakiau di Indonesia. Di zaman “Orde Baru” ia dipenjarakan, dibuang ke Pulau Buru, dan kemudian dikembalikan ke Jakarta tetapi tetap tak bebas, selama hampir 20 tahun. Dan kini, tahun 1999, ia mendapatkan paspornya, ia seorang yang merdeka kembali, dan ia berangkat ke Amerika Serikat, sebuah negeri yang tak pernah dikunjunginya-dan ia disambut.

Tetapi benarkah sejarah punya narasi selurus itu? Di Pulau Buru, tempat ia diasingkan selama 13 tahun beserta 12.000 tahanan politik lainnya, sebuah gulag yang dikurung oleh laut, sebuah kamp yang dikitari savana dan diselang-selingi rawa, barangkali yang bertahan hanya ide bahwa kelak manusia akan bebas. Terutama jika orang mempercayai Hegel dan Marx-seperti mempercayai eskatologi bahwa surga akan datang kelak di kemudian hari karena itulah janji Tuhan. Tetapi jika kita baca catatan-catatan Pramudya yang kemudian dihimpun di bawah judul Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, yang di Amerika tahun ini diterbitkan sebagai The Mute’s Soliloquy, barangkali yang tebersit di sana bukanlah eskatologi itu, bukan Hegel bukan pula Marx, melainkan sebuah “pesimisme pemikiran, optimisme kehendak”.

Kalimat ini datang juga dari keadaan terpenjara: yang menuliskannya seorang Marxis yang orisinil, Antonio Gramsci, dari selnya di Italia di tahun 1930-an. Mungkin itu pulalah yang juga terjadi di Buru. Pram menuliskan catatannya dan kemudian menyembunyikannya, tanpa harapan bahwa semua itu akan dibaca. Tetapi, seperti dikatakannya kepada Mary Zurbuchen, ia ingin agar ada kesaksian bagi anak-anaknya-yang terpisah dari dirinya selama bertahun-tahun itu-bahwa “mereka pernah punya seorang ayah”.

Ancaman dari waktu adalah ketidaktahuan yang berlanjut atau lupa yang kemudian terjadi. Mengetahui, dalam melawan ancaman waktu itulah hal yang penting bagi Pram. Ia tak tahu apakah ia akan menang. Akalnya mengatakan kemenangan baginya mustahil. Tetapi ia tak hendak menyerah. Ia menulis sederet novel sejarah.

George Orwell pernah mengatakan bahwa bentuk novel adalah yang “paling anarkis” dalam kesusastraan. Orwell benar, sepanjang sifat “anarkis” itu diartikan penampikan novel kepada segala yang ortodoks dan mengekang. Tetapi pada sisi lain, novel-seperti yang ditulis oleh Orwell dan Pramudya, terutama novel sejarah itu-mempunyai dorongan yang dekat dengan kehendak “mengetahui”. Dan “mengetahui” bukanlah sesuatu yang bisa terjadi dengan anarki; mengetahui adalah proses yang tertib.

Dalam novel, sejarah memperoleh alur, mendapatkan bentuk. Mungkin bukan sebuah alur Hegelian (bahwa sejarah akan berakhir dengan kemerdekaan), tetapi bagaimanapun bukan sesuatu yang acak-acakan. Haruskah dengan pandangan demikian ini pula kita melihat cerita hidup Pramudya sendiri: dari sebuah pulau buangan yang jauh di Maluku, sampai dengan ke Amerika Serikat, sebuah negeri yang-seperti diakuinya malam itu-punya kontribusi besar, berkat Presiden Carter, dalam pembebasannya dari Pulau Buru?

Salah satu yang sering mengagetkan dalam sejarah ialah bahwa ia ternyata bisa mengagetkan. Banyak hal berlangsung bukan semata-mata karena progresi yang seperti hukum itu, bukan karena perkembangan sebuah struktur sosial, bukan pula takdir, melainkan karena tindak manusia. Dari saat Pramudya ditahan sampai dengan saat Pramudya di New York telah berlangsung sebuah periode yang begitu mencengkeram: Perang Dingin. Perang Dingin, yang membagi dunia menjadi dua sejak akhir 1940-an, antara “komunis” dan antikomunis”-seakan-akan itu sebuah pembagian yang kekal-tak disangka-sangka berakhir ketika Mikhail Gorbachev mengambil keputusan yang semula tak terbayangkan di tahun 1989: Uni Soviet harus berubah, dan Tembok Berlin diruntuhkan.

Smiley, tokoh utama John Le Carre yang muncul kembali dalam The Secret Pilgrim, mengatakan itu dengan secercah rasa kagum: “Manusialah yang mengakhiri Perang Dingin itu, kalau kau belum mengetahuinya. Bukan persenjataan, atau teknologi, atau tentara atau serangan. Manusia, itu saja. Dan bahkan bukan manusia Barat… melainkan musuh bebuyutan kita di Timur, yang turun ke jalan, menentang peluru dan tongkat polisi dan berkata: Sudah cukup. Kaisar merekalah, bukan kaisar kita, yang berani naik ke panggung dan mengatakan bahwa ia tak berpakaian.”

Kaisar yang berani, rakyat yang bertindak…. Manusia belum mati-mungkin itulah yang akhirnya harus dikatakan, sebuah kabar gembira untuk Pramudya, tentang Pramudya. Setidaknya ketika musim dingin ketidakbahagiaan kita berakhir, dan tulip dan magnolia muncul, setidaknya sampai musim gugur tiba kembali.

Goenawan Muhamad
~"Pram"__Majalah Tempo No 08, 27 Apr-3 Mei 1999~
READ MORE - Pramudya Ananta Toer di New York.

Arus Balik dalam Hidup Pramoedya Ananta Toer

Tulisan ini dimuat untuk mengenang sastrawan kita Pramoedya Ananta Toer. Berikut ini artikel yang ditulis oleh Linda Christanty tentang Pramoedya

PRIA 68 tahun itu sudah digerogoti uban, setengah botak. Namun, ingatannya masih tajam. Nada bicaranya tegas. Terkadang dia berapi-api, lalu menyurut sedikit untuk soal-soal yang memedihkan hati dan sepasang mata tuanya ikut merah berkaca-kaca. Gendang telinga pria ini sudah rusak dihantam popor senapan, sehingga membuat orang harus berbicara keras padanya. Dia tuli. Untuk lebih aman, biarkan dia saja yang bercerita. Suaranya lantang, lebih agar dia sendiri bisa mendengar ketimbang tamu-tamunya yang berpendengaran normal.

“Nasution (Jenderal Abdul Haris Nasution yang dianugerahi bintang lima di masa Soeharto, kini sudah almarhum) telah membunuh teman saya, membuat teman saya mati. Waktu itu kami sedang mempertahankan Bekasi, tepatnya di daerah Lemah Abang. Nasution dan Soeharto itu sama saja, sama-sama KNIL,” tuturnya, pahit, teringat pengalaman berjuang melawan Belanda.

Di tengah emosi yang campur-aduk tadi tak bisa disembunyikannya rasa benci terhadap penguasa Orde Baru yang telah mengirimnya ke Pulau Buru, tanpa pengadilan, dan memaksanya hidup seperti Rubashov, seorang Bolshevik yang dihukum partainya sendiri. Rubashov tak lain tokoh dalam novel Arthur Koestler, Gerhana Tengah Hari. Pram, pria tua itu, menyukai novel tersebut.

Pada September 1965 pertikaian Angkatan Darat dengan Partai Komunis Indonesia mencapai puncak. Sejumlah perwira tinggi tiba-tiba diculik. Partai Komunis Indonesia dituding bertanggung jawab. Ketika itu presiden Soekarno sendiri kurang mesra dengan tentara dan dianggap bersimpati pada sayap kiri di parlemen. Di tengah pertikaian elite politik inilah intrik dan kasak-kusuk terjadi. Soeharto—seorang jenderal Angkatan Darat—memancing di air keruh, merebut kekuasaan dan memerintahkan pembersihan terhadap orang-orang partai komunis di Indonesia. Pram yang menjadi pengurus lembaga kebudayaan partai itu ikut diburu.

Empat belas tahun dia menjalani hukuman, mulai dari sel penjara Salemba, Nusakambangan, sampai daerah gersang Buru. Sudah ditulisnya dua jilid otobiografi berdasarkan catatan pribadi selama di Buru, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Catatan ini berbentuk surat pada putrinya yang baru saja menikah saat dia akan dibuang ke pulau tersebut, surat-surat yang tiada pernah terkirim. Barangkali, hidup tanpa hak-hak layak sebagai manusia membuat Pram ingat pada Rubashov, tokoh novel Koestler. Dan ternyata, penindasan ada dalam sistem manapun, kapitalisme juga sosialisme yang korup.

Dalam rumah beton dua lantai yang dibangun dari buku-bukunya yang laris di luar negeri, Pram belum bisa tidur nyenyak. Dia masih diawasi, wajib lapor, dan tak bisa pergi ke luar negeri untuk menerima penghargaan terhadap novel-novelnya. Di Indonesia, tahun 1993, tak satu pun buku Pram boleh beredar. Buku-bukunya dituduh mengandung ajaran Marxisme-Leninisme. Untuk membaca buku Pram orang harus sembunyi-sembunyi. Buku-bukunya beredar dari tangan ke tangan. Tiga aktivis pernah mendekam di sel gara-gara menyebarluaskan karya-karya Pram. Namun, Pram termasuk beruntung. Dia panjang umur, bisa memperjuangkan kemanusiaan lewat tulisan, dan menjadi saksi dari berbagai zaman. Ratusan kawan senasibnya mati di kamp kerja paksa Buru dan yang selamat, sebagian sakit jiwa; tinggal seonggok daging bernyawa tempat jiwa membusuk. Lebih sial lagi, nasib mereka yang terjebak di luar negeri. Pemerintah Soeharto sudah siap menangkap mereka yang kembali. Namun, di atas segala derita, rakyat kebanyakanlah yang paling naas. Jutaan mereka tumpas dibunuh tentara dan tangan-tangan pemuda yang menjadi kacung. Barangkali, untuk mereka yang terakhir inilah novel-novelnya dipersembahkan.

Tokoh-tokoh utama dalam novel-novel Pram selalu orang biasa, rakyat jelata, dan bahkan, mereka yang hanya dikategorikan “massa” dalam sejarah resmi Indonesia. Orang-orang ini tak bakal ditemukan namanya dalam buku-buku pelajaran sejarah kita, yang hanya mencatat nama raja, pangeran, pejabat, atau jenderal belaka sebagai pahlawan atau pengkhianat. Sejarah Indonesia adalah sejarah penguasa, bukan sejarah kuli yang mendirikan candi atau serdadu yang memberontak dan memimpin pasukan. Pram mencoba berbicara tentang sejarah dari sisi lain, melalui gundik (Bumi Manusia), anak petani (Arus Balik), ataupun pelacur (Larasati). Dia ingin berkata bahwa kaum yang hina itu juga punya andil untuk tanah yang merdeka di beragam zaman.

Soekarno, tokoh perjuangan sekaligus presiden pertama Indonesia yang Pram kagumi, pernah berucap tak ada perubahan besar di muka bumi ini tanpa melibatkan massa. Jangan pernah meremehkan massa. Dari sanalah kekuatan perubahan berpusat dan menyebar. Pramoedya Ananta Toer tentu memahami ucapan Soekarno, mungkin melebihi siapa pun. Dia kemudian menulis tentang mereka.

Dalam tetralogi Bumi Manusia, Nyai Ontosoroh—gundik seorang Belanda—menampilkan sosok pribumi pantang menyerah. Ontosoroh mengangkat martabat hidupnya yang setaraf budak menjadi perempuan yang menguasai ilmu dagang, pintar menulis dan bercakap dalam bahasa penjajahnya. Ada pula tokoh pelarian dari negeri Cina, perempuan yang mengajari Minke—tokoh utama novel ini—tentang perlawanan terorganisasi, bernama Ang San Mei.

Ontosoroh sekuat tenaga melawan hukum-hukum Belanda yang sah merebut anak perempuannya dan semua harta dari kerja kerasnya. Ang San Mei ikut gerakan bawah tanah melawan kaisar perempuan Ye Si yang disokong penjajah Barat di Tiongkok. Ontosoroh kalah. Ang San Mei meninggal dunia di tanah pelarian. Namun, yang terpenting mereka sudah melawan.

Selain tetralogi Bumi Manusia yang melegenda itu, ada satu lagi novel Pram yang selalu diingat orang, Arus Balik. Novel ini berlatar abad ke-16 dan Pram kembali menokohkan orang biasa di dalamnya; Wiranggaleng, pemuda desa, juara gulat kadipaten Tuban.

Wiranggaleng dikisahkan punya pacar cantik, juara tari, bernama Idayu. Kedua anak muda desa Awis Krambil ini terlempar ke tengah hiruk-pikuk kekuasaan ketika Adipati Tuban, Wilwatikta, mengangkat Galeng sebagai syahbandar muda Tuban. Galeng dan Idayu menetap di Tuban, padahal mereka cuma bercita-cita punya huma di desa.

Tuban, kota pelabuhan yang telah seribu tahun dikunjungi kapal-kapal dari barat, timur, dan utara. Para pedagang membawa rempah-rempah dari Maluku dan cendana dari Nusa Tenggara Barat, lalu mengambil beras, gula, garam, dan minyak tumbuhan dari bumi Tuban. Dulu Tuban taklukan Majapahit, tapi setelah kerajaan itu runtuh akibat intrik dan perang saudara, Tuban merdeka, bahkan meluaskan wilayah sampai Jepara. Konon, Wilwatikta, ikut bersekongkol menjatuhkan Majapahit. Dia keturunan Ranggalawe, gubernur Tuban yang memberontak pada Majapahit.

Pada 1511 terjadi perubahan arus modal dan perniagaan di Nusantara. Malaka, bandar besar di Asia, jatuh ke tangan Portugis. Malaka adalah wilayah strategis di Semenanjung yang pernah dikuasai dua kerajaan besar, Sriwijaya dan Majapahit. Kejatuhan Malaka bukan sekadar hilangnya sebuah wilayah, tapi menandai perubahan arus perdagangan dunia di Asia. Kapal-kapal niaga dari Arab, Eropa, dan India tak berani singgah di bandar itu lagi, menghindari Portugis. Ini berarti ancaman juga buat Tuban. Kapal-kapal dagang asing tak berlabuh lagi di pelabuhan Tuban. Lalu-lintas dagang mereka telah diputus Portugis di Malaka.

Dua tahun setelah Malaka jatuh, Adipati Unus, putra Raden Fatah dari Demak, mencoba merebut bandar tersebut dengan mempersatukan Nusantara. Wilwatikta menolak membantu, karena Adipati Unus sebelumnya telah merampas Jepara dan menjadikan kota pelabuhan itu wilayah taklukan Demak. Adipati Tuban sengaja memperlambat kiriman pasukannya. Ketika gabungan pasukan Tuban-Banten datang, dua puluh ribu tentara laut Aceh-Jambi-Riau-Demak-Jepara yang dipimpin Adipati Unus telah kalah dihajar meriam Portugis di perairan Semenanjung itu.

Wiranggaleng, kepala gugusan Tuban, tak habis pikir. Penyebab kekalahan itu masih samar baginya. Namun, lama-kelamaan dia mengerti. Konflik-konflik internal di Nusantara telah memecah-belah kekuatan mereka. Aceh disebutkan ingin memiliki Malaka untuk diri-sendiri. Tuban mengingkari janji lantaran kasus Jepara, terlambat lima hari sampai di Semenanjung. Kekalahan Adipati Unus justru menerbitkan rasa kagum Wiranggaleng, pemuda desa yang lugu, buta politik, yang semata-mata orang suruhan penguasa Tuban.

Adipati Unus satu-satunya orang yang berani berusaha mempersatukan kekuatan melawan Portugis, dan berani melaksanakan penyerangan. Kekalahan yang terjadi bukan kekalahan perang, tetapi kegagalan dalam mengatur kekuatan sendiri. Kemudian ia menyimpulkan: armada gabungan itu semestinya tidak kalah. (hlm. 206)

Arus Balik mengungkap seputar intrik dan permainan politik yang berujung pada runtuhnya kejayaan Tuban. Letupan-letupan konflik agama lama, Hindu-Budha, dan agama baru, Islam juga muncul. Wiranggaleng tidak ingin perbedaan agama membuat orang merestui penindasan terhadap yang lain. Adipati Tuban sudah memeluk Islam, sedang Galeng beragama Hindu.

Suatu hari, seorang mata-mata Portugis, Sayid Habibullah Almasawa, datang ke Tuban dan berkat kelicikannya dia diangkat menjadi syahbandar. Adipati Tuban nekad memelihara musuh yang tengah dicari-cari utusan Sultan Mahmud Syah, penguasa lama Malaka, diincar orang-orang Demak-Jepara dan pedagang-pedagang Cina Lao Sam—daerah otonomi khusus orang-orang Cina. Baginya, kehadiran Almasawa yang fasih bahasa Portugis dan Spanyol itu bisa membuka kontak dagangnya dengan Portugis, bisa menguntungkan Tuban serta menghidupkan kembali pelabuhan yang sepi. Baginya, Tuban harus makmur. Persetan wilayah atau kota lain. Watak Adipati Tuban yang lokalis ini berakibat fatal di kemudian hari.

Di Jepara tengah terjadi pergantian kepemimpinan. Adipati Unus mangkat. Dia digantikan Trenggono, adik kandungnya. Trenggono punya ambisi berbeda dengan Unus. Dia menjadikan strategi merebut Malaka sebagai kamuflase tujuan sejatinya untuk merebut Sunda Kelapa, Cimanuk, Cirebon, bahkan Tuban, kota-kota pelabuhan di Jawa. Trenggono mencetuskan perang saudara. Ratu Aisah, sang ibunda, menentang putranya dan tak digubris Trenggono. Adipati Tuban yang terkecoh oleh muslihat Trenggono kembali mengirim Wiranggaleng dan pasukannya ke Semenanjung. Tetapi, kali ini Demak-Jeparalah yang berkhianat. Tentara Demak justru menyerang Tuban ketika pasukan Tuban tengah terombang-ambing di laut menuju Malaka. Trenggono memimpin langsung pasukan Demak menyerbu kadipaten Tuban.

Di lain pihak, armada Portugis bergerak ke Maluku dan Nusa Tenggara Barat, membinasakan armada dagang Tuban dan Blambangan yang selama ini memonopoli Maluku. Portugis ingin menguasai sumber rempah-rempah. Sementara itu, kapal Portugis juga mulai masuk ke perairan Jawa, mendirikan benteng di Pamanukan dan mengintai Tuban. Arus sudah berbalik. Masa kejayaan kerajaan Nusantara telah lewat, ekspansi-ekspansi melewati samudra telah berhenti. Sebagai gantinya, armada laut asing muncul dari ujung selatan dan memasuki wilayah Nusantara, merebut kota-kota pelabuhan dan niaga. Inilah babak awal kapitalisme perdagangan di Nusantara.

Wiranggaleng, senapati Tuban, sebenarnya punya peluang untuk menahan arus balik itu. Dia memperoleh restu Ratu Aisah dari Jepara, ibunda Adipati Unus. Dia berhubungan baik dengan penguasa Lao Sam. Dia sudah mengusir Demak dari Tuban. Tetapi, Galeng justru memilih tinggal di desa dan menjadi petani. Dia tak mau jadi raja. Di hadapan pasukannya yang berharap, Galeng membuat keputusan.

“Telah aku baktikan masa mudaku dan tenagaku dan kesetiaanku. Biar pun hanya secauk pasir untuk ikut membendung arus balik dari utara. Arus balik itu ternyata tak dapat dibendung. Kekuatan untuk itu ada pada Trenggono, dan Sultan Demak itu tidak bisa diyakinkan untuk menggunakannya. Arus tetap datang dari utara, yang selatan tetap tertindih. Ya, Dewa Batara, kau tak beri aku kekuatan untuk menyedarkan raja dan sultan sehingga jadi gelombang raksasa, bukan sekedar mendesak arus balik dari utara, bukan saja untuk jaman kemerosotan ini, juga kelangsungannya untuk selama-lamanya. Gajah Mada, anak desa itu telah berhasil. Ia gerakkan tangannya dan semua jadilah yang dipegangnya, semua bangun yang disentuhnya. Pergilah dia, pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan kebesaran dan arus besar yang mengimbak-imbak megah berpendaran damai ke utara. Aku bukan Gajah Mada. Tiada sesuatu hasil apalagi kebesaran kutinggalkan kecuali kesakitan dan kekecewaan dalam diri dan terhadap diri-sendiri.” (hlm. 749)

Tetapi, tahukah Galeng bahwa Gajah Mada pun telah dibinasakan kekuasaan? Patih Majapahit ini dibunuh Hayam Wuruk gara-gara peristiwa Bubat. Banjir darah di Bubat terjadi setelah Raja Padjadjaran menolak mempersembahkan putrinya (Dyah Pitaloka) sebagai upeti, melainkan sebagai wanita yang hendak dipersunting Hayam Wuruk. Pasukan Gajah Mada membunuh sang raja yang tak mau tunduk berserta pengikutnya. Asal-usul Patih Gajah Mada sengaja disembunyikan penulis babad agar keluarganya tak ikut dihabisi penguasa Majapahit itu.

Arus Balik sering disebut-sebut sebagai karya terbesar Pram. Namun, novel ini bukan tanpa cacad. Dalam karya yang dijuluki “literatur maritim Nusantara” tadi, Pram justru bertolak dari kota pelabuhan Tuban, yang tak sebanding dengan kebesaran Majapahit apalagi Sriwijaya. Novel ini seolah mengatakan seluruh perubahan iklim modal dan politik Nusantara bertumpu pada sebuah kota kadipaten.

Pram juga terlalu melebih-lebihkan Majapahit sebagai kerajaan laut terbesar di Nusantara. Apakah lantaran dia meminjam mulut Wiranggaleng, pemuda desa, sehingga penjelasannya yang sembarangan ini bisa diterima? Apakah lantaran tokoh rekaannya itu cuma orang desa yang tak punya pengetahuan luas, sehingga pernyataannya bisa dimaklumi? Jelaslah di sini betapa kejayaan Nusantara dipandang dari sudut orang desa pedalaman Jawa.

“Tunggu,” tegah Wiranggaleng, “biar aku ceritai kalian. Dahulu, di jaman kejayaan Majapahit, arus bergerak dari selatan ke utara, dari Nusantara ke Atas Angin. Majapahit adalah kerajaan laut terbesar di antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi ini …” (hlm. 746)

Pram lupa bahwa kerajaan Majapahit yang mulai berdiri pada abad ke-13 tersebut hanya mengalami 70 tahun masa jaya. Sriwijaya yang menguasai samudra sejak abad ke-7 sampai awal abad ke-13 tak disinggung sebagaimana mestinya. Tahukah Pram bahwa perang laut terbesar di Asia Tenggara terjadi ketika Sriwijaya mengerahkan seratus ribu tentara laut melawan Funan?


Namun, selebihnya Pram cukup jeli menghadirkan situasi sesuai zaman. Kosa kata bahasa Melayu yang jadi lingua franca waktu itu muncul di sana-sini, seperti seluar (celana), ditunu (dibakar), para-para (lekukan kayu di dinding), tegah (cegah), dan sebagainya. Ini juga jejak-jejak Sriwijaya, bukan?

Ah, pria itu kini menjelang 78 tahun usianya. Dia sudah pindah dari rumah beton berlantai dua. Tentu saja ke rumah yang lebih megah, berlantai lima, dekat kota hujan Bogor. Dia sudah bebas ke luar negeri sekarang, karena pemerintah Soeharto tumbang lima tahun lalu. Buku-bukunya bebas dicetak ulang. Dia sudah kaya-raya. Dia sudah menang.

“Apa rahasia Pak Pram menjaga stamina?” tanyaku, hampir sepuluh tahun lalu.

“Berolah raga teratur. Dan kamu kenapa kurus begitu? Jaga kesehatan, makan vitamin C 500 miligram sehari. Kalau badan lemah, bagaimana bisa menang lawan Soeharto,” jawabnya, terkekeh.

Lupa kutanyakan mengapa dia menulis begitu banyak buku dan tebal-tebal. Namun, terbersit juga sebaris kalimat catatan harian Rubashov dalam novel Koestler itu: Tiap pikiran salah yang kita turut berarti kejahatan terhadap generasi-generasi yang akan datang. Barangkali, itulah sebab dia menulis, ingin mengungkap apa yang dulu disembunyikan atau tersembunyi dari pengetahuan angkatan yang kemudian.

Source: http://aboutlindachristanty.wordpress.com/2007/03/20/arus-balik-dalam-hidup-pramoedya-ananta-toer/

READ MORE - Arus Balik dalam Hidup Pramoedya Ananta Toer

TANTRA, ILMU PEMBEBASAN



Tantra adalah ilmu pengetahuan kerohanian yang untuk pertama kalinya diajarkan di India 7000 tahun silam. Tan barasal dari akar kata Sansekerta yang berarti “perluasan”, dan Tra berarti “pembebasan”. Dengan demikian Tantra merupakan latihan rohani yang mengangkat manusia ke dalam suatu proses yang memperluas pikirannya. Tantra menghantar manusia dari suatu keadaan tidak sempurna menjadi sempurna, dari keadaan kasar menjadi halus, dari kemelekatan menjadi terbebaskan.

Perkembangan Tantra berjalin dengan perkembangan peradaban di India kuno. Pada saat Tantra tumbuh menjadi latihan rohani yang utama, India sedang mengalami suatu masa persimpangan sejarah. Di barat laut suku-suku pengembara dari Asia tengah, yaitu Arya, mulai memasuki India yang mereka namakan Bharata Varsha (tanah yang menghidupi dan mengembangkan umat manusia). Meskipun mereka adalah bangsa pengembara dengan kebudayaan perang, di kalangan mereka ada juga para bijak yang dikenal sebagai Rishi yang mulai mengungkapkan berbagai pertanyaan mendasar tentang asal mula dan tujuan alam semesta.

Para bijak itu menyampaikan ajaran-ajarannya dari mulut ke mulut, dan belakangan mereka mengumpulkannya menjadi buku yang dikenal dengan nama Veda. Dalam ajaran-ajaran ini mereka mengemukakan pemikiran tentang Kesadaran Yang Maha Tinggi, jauh lebih maju daripada berbagai konsep yang sebelumnya ada di dunia ini mengenai para dewa yang dianggap menghidupi kekuatan alam. Mereka juga mengembangkan sistem doa dan puja agar dapat memasuki keterhubungan dengan Kesadaran Agung, namun kebanyakan bentuknya masih bersifat eksternal, ritual belaka.

Di India suku bangsa Aria berhadapan dan bertempur dengan penduduk pribumi - bangsa Austrik, bangsa Mongolia, dan bangsa Dravidia. Bangsa Aria menganggap para pribumi ini merupakan bangsa yang lebih rendah, dan dalam dongeng India seperti Ramayana, bangsa-bangsa itu dilambangkan seperti para monyet dan hantu.

Meskipun dianggap rendah, namun bangsa Arya sangat tertarik pada latihan rohani yang dipraktikkan para pribumi. Pendekatan rohani yang dianut mereka yang bukan Arya adalah Tantra, dan itu sangat berbeda dengan syariat Veda milik kaum Arya, karena Tantra pada dasarnya adalah proses introvers, masuk ke dalam, bukan sekedar upacara eksternal saja. Banyak orang Arya yang mulai mempelajari cara pengembangan rohani Tantra, dan pada masa kemudian buku-buku Veda sangat dipengaruhi oleh Tantra.

Dalam masa peperangan antara suku bangsa Arya dan non-Arya, lahirlah seorang agung. Namanya Sadashiva, artinya “dia yang selalu terserap dalam kesadaran” dan “dia yang sumpah satu-satunya hanyalah untuk memajukan kesejahteraan menyeluruh semua kehidupan”. Sadashiva, dikenal juga sebagai Shiva, adalah seorang Guru rohani yang istimewa. Meskipun Tantra sudah dipraktikkan sejak sebelum kelahirannya, namun beliaulah yang pertama kali mengungkapkan perkara rohani secara sistematis bagi umat manusia.

Bukan saja beliau adalah seorang guru spiritual, namun beliau juga pelopor sistem musik dan tari India, dari sebab itu beliau terkadang dikenal pula sebagai Nataraj (Tuhan Penata Tari). Shiva juga merupakan pelopor ilmu pengobatan India, dan menurunkan suatu sistem yang terkenal dengan nama Vaedya Shastra.

Dalam bidang sosial Shiva juga memainkan peranan penting. Beliau memelopori sistem pernikahan, yaitu kedua mempelai menerima saling tanggung jawab demi keberhasilan perkawinan, tanpa memandang kasta atau suku. Shiva sendiri melakukan perkawinan campur, dan dengan mengawini seorang putri Arya beliau membantu menyatukan berbagai pihak di India yang sedang saling berperang dan memberikan bagi mereka suatu sudut pandang sosial yang lebih universal. Karena kepeloporan sosial ini Shiva dikenal juga sebagai “Bapa peradaban manusia”.

Sumbangan terbesar dari Shiva pada kelahiran peradaban yang baru adalah pengenalan konsep dharma. Dharma adalah suatu kata Sansekerta yang berarti “sifat dari sananya” milik sesuatu hal. Apakah yang menjadi sifat alamiah dan kekhasan manusia? Shiva menerangkan bahwa manusia selalu menginginkan lebih, lebih daripada kenikmatan yang diperoleh dari kepuasan inderawi. Beliau mengatakan bahwa manusia berbeda dengan tanaman atau binatang karena apa yang sangat diinginkan oleh manusia adalah kedamaian mutlak. Itu adalah tujuan hidup manusia, dan ajaran rohani Shiva ditujukan untuk memberdayakan manusia untuk mencapai tujuan itu.

Seperti halnya dengan berbagai ajaran kuno lainnya, ajaran Shiva disampaikan dari mulut ke mulut, dan baru kemudian dituliskan ke dalam buku. Isteri Shiva, Parvati, sering bertanya pada beliau mengenai berbagai pengetahuan rohani. Shiva memberikan jawabannya, dan kumpulan tanya jawab ini dikenal sebagai Tantra Shastra (kitab suci Tantra). Ada dua macam buku. Prinsip-prinsip Tantra terdapat dalam buku bernama Nigama, sedangkan praktik-praktiknya dalam buku Agama.

Sebagian buku-buku kono itu telah hilang dan sebagian lagi tak dapat dimengerti karena tertulis dalam tulisan rahasia untuk menjaga kerahasiaan Tantra terhadap mereka yang tak memperoleh inisiasi, namun dengan demikian pemikiran-pemikiran Tantra tak pernah terungkapkan dengan jelas.

Guru dan Murid

Dalam berbagai ulasan mengenai Tantra Shastra dan dalam bukunya mengenai kehidupan dan ajaran Shiva, Shrii Shrii Anandmurti mengemukakan beberapa pemikiran dasar bersumber dari ajaran-ajaran kuno itu. Salah satu unsur utama dalam Tantra adalah hubungan antara Guru dan murid. Guru berarti “seseorang yang dapat menyingkirkan kegelapan” dan Shiva menjelaskan bahwa agar diperolehnya keberhasilan rohani harus ada seorang guru yang baik dan seorang murid yang baik.

Shiva menjelaskan bahwa ada tiga jenis Guru. Golongan pertama adalah guru yang memberikan sedikit pengetahuan namun tidak menindaklanjuti pengajarannya. Jadi mereka pergi dan meninggalkan murid tanpa pengarahan. Kelompok kedua atau tingkat menengah adalah mereka yang mengajar dan mengarahkan para muridnya sebentar namun tidak selama masa yang diperlukan murid untuk mencapai tujuan akhirnya. Jenis guru yang paling baik menurut Tantra adalah yang memberikan pengajaran dan kemudian mengupayakan terus menerus agar muridnya mengikuti semua petunjuk dan sampai menyadari tujuan akhir kesempurnaan manusia.

Ciri guru yang istimewa ini lebih jauh diperinci dalam Tantra Shastra. Guru adalah yang tenang, dapat mengendalikan pikirannya, rendah hati, dan berpakaian sederhana. Dia memperoleh penghidupannya secara layak, dan berkeluarga. Dia fasih dalam filsafat metafisik dan matang dalam seni meditasi. Dia juga tahu teori dan praktik pengajaran meditasi. Dia mencintai dan menuntun para muridnya. Guru yang demikian disebut Mahakoala.

Namun meskipun ada seorang guru yang hebat, tetap saja harus ada sesorang yang dapat menyerap pelajarannya. Tantra Shastra menguraikan tiga kelompok murid. Jenis pertama dapat dibandingkan dengan sebuah gelas yang dibenamkan ke air dengan mulut kebawah. Meskipun berada di dalam air dan tampak penuh, namun bila dikeluarkan dari air akan tetap kosong. Ini seolah seorang murid yang berlaku baik di depan gurunya, namun begitu gurunya pergi, murid itu tidak melanjutkan latihannya dan tidak dapat menerapkan pelajarannya dalam keseharian.

Kelompok murid kedua adalah seperti gelas yang dicelupkan miring ke dalam air. Tampaknya memang penuh saat terbenam namun ketika diangkat akan kehilangan banyak air. Murid seperti ini adalah yang tekun saat kehadiran gurunya namun perlahan-lahan akan berkurang bahkan meninggalkan latihannya sama sekali.

Kelompok murid yang terbaik dilambangkan dengan gelas yang dibenamkan dalam air dengan posisi tegak. Saat dalam air gelas itu penuh dan saat diangkat keluar air tetap penuh. Murid seperti ini tekun berlatih di hadirat gurunya dan terus bertekun biarpun secara fisik terpisah jauh dari gurunya.

Hubungan guru murid sangat penting dan merupakan ciri kunci dalam Tantra. Jalan rohani sering disamakan dengan sisi tajam pisau cukur. Mudah sekali keluar dari jalur dan dengan demikian memang sulit memperoleh pembebasan. Sang guru selalu hadir untuk mencintai dan menuntun si murid pada setiap tahap upayanya.

Shiva adalah Mahakoala, namun sejak kematiannya tak ada guru yang sepadan lagi dengannya dan Tantra mengalami surut. Berbagai ajarannya hilang dan sebagian lagi terpelintir. Kini Tantra terselubung misteri dan banyak sekali salah pengertian mengenainya.

Meraih pengertian tentang M

Untuk mengerti sumber salah pengertian itu, patut kita teliti mengenai 5M, yaitu beberapa latihan rohani yang dinamai dengan huruf mula M. Shiva mulai mengajarkannya sepadan dengan kemajuan murid. Beliau mengamati bahwa orang terntentu masih pada tingkat terkuasai oleh nafsu hewani dan sebagian lain sudah berkembang lebih tinggi. Beliau memberikan latihannya tergantung pada sifat muridnya.

Huruf M pertama adalah Madya. Artinya ada dua. Salah satu arti madya adalah “anggur”. Bagi mereka yang masih dikuasai oleh insting ragawi Shiva menganjurkan mereka untuk tetap minum anggur, namun beliau menunjukkan jalannya untuk mengendalikan kebiasaan itu dan akhirnya meninggalkannya.

Bagi mereka pada tingkat yang lebih tinggi, madya mempunyai arti yang berbeda. Artinya bukan anggur melainkan “madu ilahi”. Sepanjang waktu kelenjar pineal mengeluarkan cairan yang disebut amrta. Seorang yogi yang telah membersihkan pikirannya dan berlatih puasa dapat mencicipi cairan ini dan mengalami kedalaman akibat cairan ini pada seluruh dirinya, yang sering disebut sebagai penuh kebahagiaan. Jadi, ada dua pengetian madya, yang kasar dan materiil, dan pengertian yang lebih halus dan rohani.

Huruf M berikutnya adalah Mamsa. Salah satu artinya adalah daging. Bagi mereka yang makan banyak daging, Shiva menganjurkan untuk meneruskannya namun dengan pemikiran rohani dan akhirnya mengendalikan serta meninggalkan kebiasaan itu. Bagi praktisi Tantra yang lebih halus, mamsa berarti lidah dan berhubungan dengan latihan rohani pengendalian ucapannya.

Matsya, huruf M yang ketiga, berarti ikan. Bagi praktisi yang masih berpikir ragawi, Shiva mengajarkan hal yang sama seperti anggur dan daging. Pada tingkat Tantra rohani atau halus, ikan berarti dua jalur halus yang menelusuri tubuh dari ujung tulang belakang yang saling menjalin dan berakhir di kedua lubang hidung. Kedua jalur ini dikenal sebagai ida dan pingala. Dengan pengetahuan pengendalian napas, Pranayama, aliran dalam kedua jalur itu dikendalikan dan pikiran menjadi tenang agar mudah meditasi. Ini adalah bentuk matsya bagi praktisi spiritual.

Huruf M berikutnya adalah Mudra. Mudra hanya mempunyai arti spiritual dan tak ada hubungannya dengan praktik yang lebih kasar. Mudra berarti memelihara hubungan dengan semua yang membantu kita memperoleh kemajuan rohani dan menghindarkan diri dari kehadiran semua hal yang dapat mengganggu kemajuan kita.

Huruf M terakhir adalah Maethuna, dan ini yang banyak menimbulkan kerancuan mengenai Tantra. Maethuna berarti persatuan. Pada pengertian yang rendahan berarti persatuan seksual. Bagi mereka yang masih dikuasai oleh insting seksual, Shiva menganjurkan bahwa seks dilakukan dengan ideasi rohani dan secara perlahan harus dikendalikan.

Bagi para praktisi yang lebih maju, yaitu mereka yang telah mempraktikkan Tantra yang lebih rohani dan lebih halus, Shiva mengajarkan praktik Maethuna yang lain. Dalam hal ini, “persatuan” berarti menyatukan kesadaran seseorang dengan Kesadaran Mahatinggi. Dalam hal ini enersi spiritual manusia, yang diam tertidur di ujung tulang belakang, dibangkitkan sampai naik mencapai pusat enersi yang paling tinggi (dekat kelenjar pineal), mengakibatkan praktisi mengalami persatuan dengan Yang Mahatinggi.

Persatuan yang halus

Salah satu ciri khas dari Tantra yang halus adalah metode meditasinya yang introvers, masuk ke dalam. Konsep mantra memiliki tempat yang penting dalam paham meditasi Tantra. “Man” berarti “pikiran” sedangkan “tra” berarti “yang membebaskan”. Maka mantra adalah getaran tertentu yang membebaskan pikiran.

Para yogi jaman dahulu bereksperimen dengan berbagai getaran suara dan mulai menggunakan suara-suara khusus yang mereka anggap berguna bagi perluasan pikiran. Mereka menemukan bahwa ada tujuh pusat enersi psycho-spiritual yang utama dalam tubuh manusia. Mereka selanjutnya menemukan bahwa ada 50 macam suara keluaran dari pusat-pusat enersi itu. Suara-suara ini terdapat dalam abjad Sansekerta, dan kombinasi dari suara-suara itu dipergunakan pada jaman dahulu dalam proses konsentrasi dan meditasi.

Selama meditasi Tantra, seorang meditator akan berkonsentrasi pada mantra dan mengupayakan satu getaran suara saja (dan ideasi yang berhubungan dengannya) dalam pikirannya. Pengulangan mantra secara menerus akan mengangkat kesadaran praktisi pada tingkat yang lebih tinggi.

“Tidak sembarang suara secara acak dapat dipergunakan untuk meditasi, namun memang ada beberapa ciri yang harus dimiliki mantra agar bermanfaat. Pertama, setiap mantra haruslah berdenyut sifatnya, yaitu mempunya dua suku kata yang dirapal ulang seiring tarikan dan hembusan napas. Selanjutnya mantra harus berkaitan dengan suatu ideasi. Paham umum yang digunakan mantra dalam meditasi adalah “Aku menunggal bersama Kesadaran Mahatinggi”. Mantra yang demikian membantu mengkaitkan kesadaran praktisi pada keseluruhan kesadaran alam semesta.

Ciri terakhir dari mantra adalah mantra harus memiliki getaran tertentu yang dapat menghubungkan getaran si meditator dengan getaran Kesadaran Agung. Karena setiap orang tidak sama, maka mantra yang digunakan juga tidaklah sama bagi setiap orang. Guru meditasi akan memilihkan mantra yang sesuai dengan getaran tertentu seseorang dan dapat menghubuingkan getarannya dengan irama semesta Kesadaran Agung. (Lihat juga “Mantra)”.


Tantra bukan saja merupakan kumpulan teknik meditasi atau yoga belaka. Ada paham-paham mengenai dunia yang terkandung di dalamnya. Menurut Tantra, perjuangan adalah sari hidup. Upaya penuh perjuangan mengatasi berbagai kendala dan maju dari keadaan tak sempurna menuju yang sempurna adalah semangat sejati dari Tantra.

Dalam upaya maju dari ketidaksempurnaan menuju kesempurnaan, ada tiga tingkat yang harus dilalui. Tingkat pertama, seseorang masih dikuasai oleh insting hewaninya, namun pada tingkat berikutnya dia berhasil mengendalikan insting-insting itu dan mencapai tingkat perkembangan sebagai manusia sejati. Akhirnya, dengan upaya dan perjuangan yang berkelanjutan, suatu tingkat (kosa) akan tercapai saat seseorang bagaikan dewata. Tantra dengan demikian memiliki sudut pandang dunia yang sangat optimistik. Tantra menunjukkan bagaimana seseorang maju dalam lingkaran kosmik (”Brahmacakra“) dengan kesadaran yang kurang, maju menuju yang jauh sangat lebih tinggi. [Tulisan ini merupakan petikan dari The Wisdom of Yoga karya Acarya Vedaprajinananda Avadhuta, Nanda Marga Publications, Singapore, 1990]

Source: http://anandamarga.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=123&Itemid=26
READ MORE - TANTRA, ILMU PEMBEBASAN

Cai Panon


“ Dik, bagaimana dengan Ayah dan Ibu ?
Masihkah air suci melebur cinta yang tetap sejati ?
Merendahkan diri dan menelanjangi kelam “

Inilah kakakmu yang tak pernah punya rasa malu !
Padamu !
masih saja menganut azas “ jelangkung “.
Datang tak dijemput, pulang tak diantar !
Kau datang dan pergi, aku seperti tak peduli.

Kakakmu yang seperti bocah ingusan ketika bermain dengan buaian alkohol dan jalang tubuh lajang nakal.
Kita seperti dua dunia dalam bentangan semesta tunggal.

Kau yang mampu menangis tersedu dalam malam – malam ketika ku tak pulang.
Ahh….sebenarnya ingin benar kulihat titik air matamu yang jatuh membasahi sajadah lapuk itu.
Sajadah yang pernah kubelikan untukmu dulu ( Bukan karena tahu untuk apa sajadah itu, tetapi harganya yang sangat murah mendorongku untuk segera membawanya pulang untukmu. Hanya sepuluh ribu rupiah. Menurutku harga itu betul – betul murah dibandingkan harga botol Mariachi Tequilla yang kucekik tiap hari ).
Sebenarnya aku trenyuh juga melihat kau masih memakai sajadah itu, tapi diri ini malu untuk mengakui apalagi sekedar memeriksa kelayakan sajadah itu.
Huahahahaha..yang benar saja ! seorang sial dangkalan sepertiku menyentuh sajadah.
Oh come on ! apa yang nanti bakal dikatakan teman – temanku.
insyaf lo brur ? dah mau koid lo ?

Maka kakiku melangkah pergi lagi ketika kau beranjak menuju meja reyot beserta lampu cempor itu.
Kau bawa buku – bukumu dari kamar dan kau duduk.
Belajar ? buat apa belajar ? mending gak sekolah tapi bisa cari duit.
Buktinya aku bisa teler tiap malam dengan duit sendiri.
Kamu tahu tidak berapa rupiah yang mampu aku keluarkan untuk sekedar merasakan apa yang namanya teler dan jackpot ?
Kamu tak perlu tahu.
Yang penting tiap bulan kamu bisa makan dan menambah buku – buku kamu dari duit ini.
Jangan Tanya juga darimana kakakmu ini banyak duit ! sekolah saja sana !

Aku yang mampu menangis tersedu sepertimu adikku !
Ketika ada satu hari lewat tanpa air panas itu lewat di tenggorokanku.
Ketika satu hari saja aku tak bisa naik ranjang bersama si pemilik lekuk indah yang kucumbu begitu nafsu.
Ketika Si Tante Frida kabur dariku tanpa meninggalkan sehelai cek pun.
Betul..aku mampu menangis ketika itu. Malah lebih hebat dari tangisan yang kamu nyanyikan tiap malam. ( kapan kita mau lomba menangis ? )
Kamu hanya bisa menangis disajadahmu. Sendiri.
Sedangkan aku mampu menangis tanpa airmata sambil menghancurkan barang – barang di rumah yang kau jaga dan kau rawat tiap pagi.
Bukankah kau tak perlu repot – repot lagi harus bangun shubuh tiap hari untuk merawat barang – barang itu ?

Yang kau lakukan ketika itu hanya pergi ke kamar dan menangis tersedu lagi.
Busyet ! apa kemampuan perempuan hanya menangis ?
Putus cinta, hilang pekerjaan, dimarahi bos , dimusuhi kerabat dan segala tetek bengek lainnya yang bisa membuat wanita menangis di atas kasur sambil menutupi muka dengan bantal.
Dikira bisa selesai semua masalah dengan kelakuan seperti itu ?
Tapi tadi aku bicara kalau aku juga menangis ya ? berarti jiwaku juga seperti perempuan ?
Akh..mana ada sih perempuan yang bisa tidur dengan tante Frida ! Ya..aku lelaki !

Maka kubanting lagi sisa piring – piring yang ada di dapur. Dan kamu menangis lagi !
Aku tertawa dalam hati.
tetapi sesaat kemudian sebuah suara menghentikan tawaku.
Kudekatkan telingaku ke pintu kamarmu.
Hebat ! suara tangis kamu bisa terhenti secepat itu.
Dan suara itu. Suara setelah tangisanmu yang terhenti.
Suara itu.
suara yang yang tak pernah dikeluarkan dari mulut bau naga teman - temanku.

“ Ya Allah ! bukakan pintu maaf untuk kakakku! Sebenarnya dia seorang kakak yang baik Ya Allah ! karena adanya dialah aku bisa sekolah seperti sekarang ini ! dialah kakak sekaligus ayah dan ibu bagiku ! bukakan pintu hidayahMu untuknya Ya Allah !
Dia kakakku satu – satunya dan paling baik ! tak pernah berani memukulku maka dia memecahkan barang – barang di rumah ini ! jangan ambil dia dariku ketika keadaanya seperti ini Ya Allah ! jika ingin Kau ambil dia, ambillah dia besok ketika kami sedang bersama – sama sujud dihadapanMu ! tunjukkan jalanMu padanya ! jalan yang Engkau ridhoi ! bukan jalannya setan yang terkutuk !Tunjukkan padanya betapa nikmatnya ketika menyebut namaMu di tiap Sholat malamku ! Amien Ya Robal Allamin ! “


Badanku bergetar.
Kupingku terasa panas.
Mataku tiba – tiba perih.
Kakiku mendadak goyah.
Secepatnya aku pergi dari rumah itu sambil menitikkan airmata yang tak pernah kukeluarkan sekali pun selama 15 tahun kebelakang.
Aku menangis. Sialan ! aku benar – benar menangis !



Inikah nilai murni dari sebuah tangisan yang sebenarnya ?




Judul lukisan " Langit dan Manusia Menyatu " karya Falun Dafa
Dari pameran lukisan bertajuk " Keteguhan Hati yang Tak Tergoyahkan ".

Untuk Adikku Yenni Sopi Mayanti ( Boliyent ).....beresin tuh Tugas Akhir cepetan ! jangan pacaran mulu ma si " tukang ojeg
copy:http://my.opera.com/ibenk_sablenk/archive/monthly/?startidx=5
READ MORE - Cai Panon

CINTA ORANG-ORANG GAGAH


Assalamualaikum…!!!



Ada 2 sahabat hadir disini. Keduanya adalah orang – orang yang benar – benar kuinginkan ada di sini. Di dada ini. Meskipun suatu waktu aku tiada lagi entah kemana.

Gadis manis belia yang mencoba menjadi dewasa.
Yang sekarang mau ku tahu adalah…apa arti dewasa bagimu ?
Apakah jika kamu tak lagi mengandalkan tangan orang lain ?
Atau karena umur kamu yang masih belia, maka timbul kebimbangan tentang kedewasaan ?
Hai gadis manis..!!
3 bulan lalu aku pernah bertemu dengan lelaki garang berumur 30 an. aku tertawa lepas dalam hati sambil berkata : huahahhaha ini rupanya jiwa seorang bocah yang terkurung dalam tubuh berbulu itu ..!!
…………………………………………………………
Apa kabar dengan usia ?
…………………………………………………………
Untuk kau tahu.
Lupakan sejenak apa yang ku ungkapkan tadi. Maka sebenar – benarnya ada sebuah sisi kedewasaan yang sudah kau miliki…!!
Walaupun aku tahu bukan dari mulut mungilmu yang mengatakan.
Kadang kau dan aku seperti dua manusia yang berdiri kaku dan saling sapa seperlunya.
Jangan lagi seperti ini ! setuju ?
Aku belum menjadi apa – apa. Tapi kuusahakan yang kubisa untuk membantumu.

Akhhhhhhhhh…..kamprettttttt…si lelaki tampan dengan rambut brondong jagong..huahahhahahah..!!!
Kau mempunyai beberapa hal yang kuinginkan ada dalam diri ini.
Jangan Tanya..!! aku lagi terburu – buru !
Akh…aku teringat canda kita tentang sebuah film.
Judulnya “ Poho deui “.
Aku adalah pemeran utama film ini. Kau hanya sekedar piguran, tetapi kau bisa menjadi pemeran utama di film ini.
Tetaplah ada dalam setiap adegan. Jangan menjauh. Karena skenario film ini bukan hanya butuh Voice Over. Harus ada dialog dan parenthetical yang penuh penghayatan.
Mampus luhhhhhhhhh!!!! Kagak ngarti..!!!!!!!!!! ( becanda, fren ! )

……………………………………………………………………………………………………………
Seperti juga aku.
Ingin menjadi pemeran utama dalam filmmu yang berjudul “ hentai only “.
Ya ! kita mencumbu kisah hidup ( film ) yang mau menjadi satu.

Sebentar !
Aku hisap dulu rokokku.
Kuteguk dulu hangatnya bir kaleng ini.

Cinta……!!:heart: :love:
Cinta sejati seperti angin yang membelaimu tak terasa… karena kau biasa.
Tak terasa
Karena kau biasa
Karena kau terbiasa
Tanpa terduga..tanpa di duga – duga.
Kebenaran rasa hadir dari saling menyelami buah hatinya masing – masing.
Saling tahu tanpa mau tahu
Karena kejujurannya lekas – lekas bakal datang
Saling membutuhkan tanpa ada niat ingin merasa dibutuhkan
Saling merindukan. Rindu yang terikat pada sepasang kaki merpati.
Saling membenahi diri
Percintaan yang baik adalah para pelakunya menjadi baik pula
Terimalah salam hormatku untuk kalian berdua!
Semoga dalam kebersamaan kalian dilindungi dan diberkati Yang Maha Kuasa !
Amien Ya Robal Alamin

Kasih tahu aku apa nanti yang membuat bahagia
Kasih tahu aku apa nanti yang menjadikan kesedihan
Kasih tahu aku apa nanti yang menjadikan perselisihan
Kasih tahu aku apa nanti……aku masih ada dalam diri kalian ?
Ceritakan padaku apa yang terjadi nanti dan hari ini

Jangan jauh dari diriku
Ada rasa tak ingin dilupakan yang berkecamuk di hati kabut mahameru
Semoga kalian menjadi orang – orang yang menunjukkan sosok aku yang ada di sana.
Di sana…di atas bukit, dan matanya memandang penuh arti pada pulau rahasia miliknya.

Assalamualaikum…!!!

penceritaan ulang dari novel berdebu yang di daur ulang
" Cinta Orang - Orang Gagah "
copy:http://my.opera.com/ibenk_sablenk/archive/monthly/?startidx=5
READ MORE - CINTA ORANG-ORANG GAGAH